Breaking News

Perang Saudara Ethiopia: Situasi Memanas!

×

Perang Saudara Ethiopia: Situasi Memanas!

Sebarkan artikel ini

Eskalasi Konflik Bersenjata di Ethiopia: Perang Saudara Kembali Berkecamuk di Tigray

Ethiopia kembali dilanda ketegangan yang memuncak dalam bentuk perang saudara. Pertempuran sengit dilaporkan terjadi antara pasukan Pemerintah Federal Ethiopia melawan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di wilayah Tsemlet, Provinsi Tigray bagian barat. Situasi semakin memburuk dengan laporan adanya konflik serupa di Provinsi Tigray bagian utara. Situasi yang memanas ini telah berdampak signifikan, bahkan memaksa penghentian sementara beberapa aktivitas penerbangan di bandara Ibu Kota Addis Ababa.

“Situasi di sana sudah semakin memburuk,” ungkap seorang sumber anonim yang enggan disebutkan namanya.

Sejarah Kelam: Perang Saudara 2020 dan Dampaknya

Konflik antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF bukanlah narasi baru. Kedua belah pihak pernah terlibat dalam perang saudara yang pecah pada November 2020, yang kemudian dikenal sebagai Perang Tigray. Perang ini berawal dari serangan pasukan TPLF ke markas pasukan Pemerintah Federal Ethiopia di Provinsi Tigray. Sebagai respons, Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengerahkan pasukan ke wilayah tersebut untuk menumpas TPLF. Bentrokan bersenjata pun tak terhindarkan.

Dalam upayanya, Pemerintah Federal Ethiopia tidak bertindak sendirian. Mereka mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Eritrea, yang memiliki hubungan erat dengan PM Ahmed dan memiliki sikap permusuhan yang kuat terhadap TPLF.

Baca Juga :  Presiden Venezuela Ditangkap AS di Kapal

Korban Jiwa dan Krisis Kemanusiaan Akibat Konflik

Perang antara pasukan Ethiopia dan TPLF berlangsung dengan intensitas tinggi, di mana kedua belah pihak berjuang keras mempertahankan posisi masing-masing. Pertempuran ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya kedua belah pihak sepakat untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata pada November 2022.

Namun, perdamaian yang diraih harus dibayar mahal. Perang tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa ratusan ribu orang. Lebih dari tiga juta warga terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga demi mencari tempat yang aman dari konflik.

Penderitaan Berlanjut: Krisis di Provinsi Tigray Pasca-Perang

Meskipun perang saudara telah usai, Provinsi Tigray justru terperosok dalam krisis yang mendalam. Banyak penduduk di sana hidup dalam kemiskinan dan kelaparan setiap harinya. Kondisi ini diperparah oleh penutupan diri wilayah Tigray dari akses bantuan Pemerintah Ethiopia.

Akibatnya, Provinsi Tigray sangat bergantung pada bantuan internasional untuk bertahan hidup. Data dari World Food Program (WFP) menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penduduk di sana membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Salah satu lembaga internasional yang selama ini menjadi tulang punggung bantuan bagi warga Tigray adalah USAID. Namun, sejak Januari 2025, ketika Presiden Donald Trump menjabat, bantuan dari USAID ke Tigray terhenti. Keputusan ini diambil Trump dengan dalih efisiensi, yang berujung pada pembubaran USAID.

Baca Juga :  Nyawa Khamenei Terancam: Iran Ultimatum Perang

Saat ini, bantuan ke Tigray dikelola langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat, namun dalam jumlah yang sangat terbatas. Kondisi warga Tigray semakin memprihatinkan, terutama dalam sektor kesehatan.

“Pemotongan pendanaan dari donor telah menambah tekanan pada sistem kesehatan masyarakat yang sudah rapuh,” ungkap Joshua Eckley, seorang dokter relawan yang bertugas di Tigray.

Situasi ini menyoroti kerentanan wilayah yang terdampak konflik dan pentingnya dukungan kemanusiaan yang berkelanjutan. Eskalasi konflik yang kembali terjadi menambah kekhawatiran akan memburuknya kondisi kemanusiaan di Ethiopia, khususnya di Provinsi Tigray.

Ethiopia juga dilaporkan menghadapi tantangan lain, termasuk laporan tiga kematian akibat wabah Marburg. Di sisi lain, negara ini juga mencatat keberhasilan dalam mengurangi utang luar negeri sebesar 80 persen dalam kurun waktu enam tahun. Selain itu, terdapat rencana pembangunan pabrik pupuk terbesar di Ethiopia oleh salah satu orang terkaya di Afrika. Namun, fokus utama saat ini tertuju pada upaya penyelesaian konflik yang kembali memanas di Tigray.