Alreinamedia.com-Natuna, Maskapai Super Air Jet kembali dijadikan bahan janji manis oleh Bupati Natuna, Cen Sui Lan. Dalam berbagai pernyataannya di media, Bupati Cen, menyebut bahwa maskapai berbiaya rendah itu akan segera membuka rute penerbangan ke Natuna.
Namun, sebagian publik mulai jenuh. Wacana ini telah menjadi semacam “ritual politik tahunan” diulang dari satu periode ke periode berikutnya, tanpa pernah membuahkan hasil nyata.
Sejak tahun 2023, janji masuknya Super Air Jet sudah digaungkan oleh Bupati sebelumnya, Wan Siswandi. Saat itu bahkan dilakukan pengukuran runway dan pembicaraan teknis, yang disebut tinggal “selangkah lagi”. Namun, hingga kini langkah tersebut tak kunjung sampai pada garis akhir.
“Langkah itu seperti jalan di tempat, tak pernah sampai tujuan”ujar Wanto, warga Natuna, saat dikonfirmasi Rabu (7/5/2025).
Kini, di bawah kepemimpinan Bupati Cen Sui Lan, janji itu kembali didaur ulang. Tanpa dokumen resmi, tanpa jadwal penerbangan, dan tanpa komunikasi terbuka dengan pihak maskapai, pernyataan itu terdengar seperti pengulangan kegagalan lama dalam kemasan baru.
“Kalau super air jet benar-benar serius, mestinya sudah ada timline, jadwal oprasional, atau rencana penerbangan uji coba. Tapi sejauh ini, semua hanya berbentuk wacana politis tanpa dasar” lanjut wanto
Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar kegagalan komunikasi, tapi juga kegagalan kebijakan publik. Ketika kepala daerah terus menjual narasi populis tanpa rencana implementatif, masyarakat menjadi korban.
Janji Super Air Jet kini menjadi simbol dari ketidakmampuan pemerintah daerah mengatasi persoalan aksesibilitas dan lebih buruk lagi, menjadikan fiksi sebagai alat kekuasaan.
Berbeda dengan Wanto, Tasya yang merupakan mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional asal Natuna menyambut positif rencana tersebut, namun tetap mempertanyakan kredibilitasnya.
“Alhamdulilah kalau memang benar super air jet akan masuk dimasa Bupati Cen Suilan Tapi pertanyaannya, sudah adakah komitmen resmi dari maskapai ? Sudah sejauh mana kesiapan infrastruktur dan promosi rutenya tutur tasya Rabu (7/5/25)
Ia juga menyoroti minimnya dukungan dari pemerintah pusat dalam membuka akses ke wilayah perbatasan seperti Natuna. Menurutnya, maskapai swasta seperti Super Air Jet hanya akan membuka rute jika ada jaminan pasar yang kuat.
“Wings Air saja sudah ada di Natuna dan mereka satu grup dengan Super Air Jet. Kalau belum ada proyeksi bisnis yang jelas, masuknya super air jet hanya akan jadi isapan jempol” tegas tasya
Lebih dari itu, janji tersebut dinilai semakin tidak relevan dalam konteks ekonomi Natuna yang sedang melemah. Sektor perikanan stagnan, pariwisata mati suri, dan angka pengangguran meningkat. Di tengah situasi ini, narasi Super Air Jet terdengar seperti pengalihan isu daripada solusi nyata.
“Rakyat butuh tiket murah dan konektivitas, bukan dongeng tahunan tentang maskapai yang tak kunjung mendarat” pungkas tasya
Jika pemerintah daerah sungguh-sungguh ingin membuka rute murah ke Natuna, publik menuntut transparansi dan kepastian adakah nota kesepahaman dengan pihak maskapai? Sudah sejauh mana dukungan dari Kementerian Perhubungan
Hingga berita ini diterbikan awak media ini masih berupaya menghubungi Humas Kementrian Perhubungan dan Lion Group (Arizki)

















