Politik

Rocky Gerung ke Surabaya: Pertemuan Prabowo-Guru Besar, Apa Isinya?

×

Rocky Gerung ke Surabaya: Pertemuan Prabowo-Guru Besar, Apa Isinya?

Sebarkan artikel ini

Rocky Gerung Mengkritik Kebijakan Nasional dan Memuji Pembangunan Surabaya

Akademisi Rocky Gerung baru-baru ini memberikan pandangannya yang tajam mengenai berbagai kebijakan nasional dalam sebuah kuliah umum yang diselenggarakan di Surabaya. Acara yang bertajuk “Pandu Negeri Public Lecture” ini menjadi panggung bagi Rocky untuk menyuarakan keprihatinannya, terutama terhadap program makan bergizi gratis dan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 1.200 guru besar. Di sisi lain, Rocky juga memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kepemimpinan Tri Rismaharini dan pembangunan Kota Surabaya, khususnya dalam aspek penataan lingkungan yang dinilainya mampu membentuk psikologi warga, meredam emosi sosial, serta mendorong pembangunan manusia dan solidaritas.

Kuliah umum yang dihadiri oleh ratusan anak muda ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Rocky Gerung di Kota Pahlawan. Sebelumnya, ia bersama Ketua DPP PDI Perjuangan, Tri Rismaharini, telah mengunjungi Kebun Raya Mangrove Surabaya dan Taman Harmoni. Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi Rocky untuk melihat langsung berbagai inisiatif pembangunan yang telah dilakukan di Surabaya.

Kritik Terhadap Kebijakan Nasional: Makan Bergizi Gratis dan Pertemuan Guru Besar

Dalam pemaparannya, Rocky Gerung secara lugas mengkritik beberapa kebijakan yang digagas oleh pemerintah pusat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah program makan bergizi gratis (MBG). Menurut Rocky, tugas utama seorang pemimpin tidak seharusnya hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik semata, seperti menyediakan makanan.

“Tugas pemimpin bukan sekadar memberi makan siang gratis. Tugas utama pemimpin adalah memberi makan pada batin manusia, memberi makan pada otak manusia,” tegas Rocky, menekankan pentingnya aspek intelektual dan spiritual dalam pembangunan manusia.

Kritik pedas juga dilontarkan Rocky terkait pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan 1.200 guru besar di Istana Negara. Ia mempertanyakan substansi dan keberanian para akademisi dalam forum tersebut.

Baca Juga :  DPRD Kupang Desak BPBD Siaga Bencana Cuaca Ekstrem

“Anda lihat, kemarin Presiden Prabowo mengumpulkan 1.200 guru besar di istana. Sampai sekarang saya mau tahu apa isinya. Pasti nggak ada, kenapa? Tak seorangpun guru besar berani angkat tangan bertanya pada Presiden Prabowo,” ujar Rocky dengan nada menyindir.

Ia melanjutkan, “Bagaimana nasib riset ketika dana-dana pendidikan dialihkan untuk urusan makan siang bergizi gratis? Tidak ada profesor yang bertanya begitu. 1200 guru besar, zonk.” Rocky menilai bahwa forum tersebut minim keberanian untuk menyampaikan kritik konstruktif, yang seharusnya menjadi ciri khas para akademisi.

Pujian untuk Surabaya: Penataan Lingkungan dan Pembangunan Manusia

Berbeda dengan kritiknya terhadap kebijakan nasional, Rocky Gerung memberikan pujian yang tulus terhadap pembangunan Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini dan dilanjutkan oleh Wali Kota Eri Cahyadi. Ia secara khusus mengapresiasi penataan lingkungan kota yang dinilainya memiliki dampak signifikan terhadap psikologi warganya.

Rocky menceritakan pengalamannya saat melintasi jalan-jalan di Surabaya yang kini dipenuhi pepohonan. Ia membandingkan dengan pengalamannya di tahun 80-an, di mana ia mengenal watak para pengemudi Surabaya yang cenderung kasar. Namun, kini ia merasakan perubahan yang drastis.

“Dari tadi saya tidak mendengar itu dan tidak melihat. Tidak ada semacam bahasa tubuh yang marah. Pohon yang ditanam oleh Ibu Risma ternyata berhasil menurunkan tekanan darah dari 200 ke 120,” ucapnya, disambut gelak tawa peserta.

Ia menganggap bahwa Tri Rismaharini memiliki pemahaman psikologi yang mendalam terhadap warganya. “Apakah Ibu Risma pada waktu itu seorang wali kota? Bukan, dia seorang psikolog. Dia seorang psikiater yang tahu cara menurunkan emosi warganya,” puji Rocky.

Pembangunan manusia di Surabaya juga menjadi poin penting yang disoroti Rocky. Ia menyebutkan bahwa angka stunting di Surabaya jauh di bawah rata-rata nasional, yang menunjukkan keberhasilan dalam upaya pembangunan sumber daya manusia. Hal ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi Surabaya untuk memiliki masa depan yang cerah.

Baca Juga :  Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Sumut: Anggaran Bencana Tak Boleh Disalahgunakan

Surabaya sebagai Fondasi Kebangkitan Indonesia yang Humanis

Rocky Gerung memaparkan bahwa Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai kota metropolitan yang telah menjalin relasi diplomatik internasional sejak berabad-abad lalu. Ia juga menyoroti peran Surabaya sebagai pusat intelektual yang diasuh oleh tokoh-tokoh seperti HOS Cokroaminoto.

“Inti dari sebuah kota adalah persahabatan, community. Kota adalah solidaritas. Dan itu yang kita takdirkan pada teman-teman kita. Dapatkah Anda melanjutkan dari kota ini?” ujar Rocky, menantang generasi muda Surabaya untuk meneruskan warisan positif kota ini.

Dalam konteks nasional, Rocky berharap Surabaya dapat berperan sebagai “penyejuk” di tengah situasi ketidakpastian regional. Ia menyindir kondisi politik dan ekonomi yang menurutnya penuh ketidakpastian, mulai dari kesulitan ekonomi hingga kegagalan diplomasi internasional.

Melalui kuliah umumnya, Rocky Gerung tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga memberikan pesan inspiratif kepada generasi muda Surabaya. Ia mengajak mereka untuk:

  • Menjaga nilai solidaritas: Membangun kebersamaan antar warga adalah kunci utama kekuatan sebuah kota dan bangsa.
  • Berani berpikir kritis: Keberanian untuk mempertanyakan dan memberikan masukan konstruktif adalah esensi dari kemajuan intelektual.
  • Memanfaatkan potensi kota: Surabaya, dengan sejarah dan tradisi intelektualnya, memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi kebangkitan Indonesia yang lebih humanis.

Rocky Gerung optimis bahwa dengan fondasi yang kuat dan semangat yang terus dijaga, Surabaya akan mampu memainkan peran sentral dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik di masa depan.