Breaking News

Senjata Israel: 3 Dunia, Zelenskyy-Putin

×

Senjata Israel: 3 Dunia, Zelenskyy-Putin

Sebarkan artikel ini

Tiga Berita Dunia Paling Menonjol pada Akhir Januari 2026

Dunia berita pada Sabtu, 31 Januari 2026, diwarnai oleh sejumlah peristiwa penting yang menarik perhatian internasional. Dari keputusan strategis Amerika Serikat terkait bantuan militer hingga upaya diplomasi di tengah konflik yang bergejolak, serta tragedi kemanusiaan yang memilukan, berikut adalah rangkuman tiga berita utama yang mendominasi tajuk utama.

1. Amerika Serikat Menyetujui Potensi Penjualan Peralatan Militer Bernilai Rp 109 Triliun ke Israel

Pemerintah Amerika Serikat secara resmi telah memberikan persetujuan atas potensi penjualan berbagai peralatan militer kepada Israel, dengan total nilai mencapai sekitar US$ 6,52 miliar, atau setara dengan Rp 109 triliun. Pengumuman ini disampaikan oleh Pentagon pada Jumat, 30 Januari, melalui pernyataan resmi dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA). Langkah ini menandai kelanjutan dari hubungan pertahanan yang erat antara kedua negara, dengan persetujuan yang telah diperoleh dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dalam kerangka program foreign military sales (FMS).

Rincian Paket Penjualan Militer

Paket penjualan ini mencakup berbagai macam sistem persenjataan canggih, yang dirancang untuk memperkuat kapabilitas pertahanan Israel. Berdasarkan laporan yang ada, komponen terbesar dari paket ini adalah pengadaan helikopter serang AH-64E Apache beserta perlengkapan pendukungnya, dengan nilai transaksi diperkirakan mencapai US$ 3,8 miliar. DSCA mengidentifikasi Boeing dan Lockheed Martin sebagai kontraktor utama yang akan terlibat dalam pelaksanaan proyek bernilai besar ini.

Selain itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga telah menyetujui potensi penjualan kendaraan taktis ringan gabungan atau Joint Light Tactical Vehicles (JLTV) beserta peralatan pendukungnya. Nilai dari paket penjualan JLTV ini diperkirakan mencapai US$ 1,98 miliar. Untuk pengadaan kendaraan taktis ini, AM General LLC telah ditunjuk sebagai kontraktor utama.

Persetujuan penjualan militer ini menunjukkan komitmen berkelanjutan Amerika Serikat dalam mendukung keamanan regional sekutunya, sekaligus memperkuat posisi strategisnya di Timur Tengah.

Baca Juga :  Cyclone's Fury: Australia's Crops Flattened, Towns Smashed

2. Presiden Ukraina Undang Vladimir Putin untuk Berdialog di Kyiv

Di tengah ketegangan yang terus membayangi hubungan antara Ukraina dan Rusia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy secara terbuka telah melayangkan undangan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk melakukan pembicaraan langsung di Kyiv. Undangan ini datang bersamaan dengan upaya intensif yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat untuk mendesak kedua negara agar segera duduk bersama dalam meja perundingan guna mencari solusi damai dan mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama.

Pada Jumat, 30 Januari 2025, Presiden Zelenskyy menyampaikan kepada awak media bahwa dirinya siap untuk bertemu dalam format dialog apa pun yang memungkinkan. Namun, ia menegaskan dengan tegas bahwa dirinya tidak akan bersedia untuk melakukan pertemuan di Moskow atau di Belarus, meskipun ada kemungkinan undangan dari Kremlin untuk bertemu di sana.

Menjelaskan posisinya lebih lanjut, Zelenskyy menyatakan bahwa melakukan pertemuan dengan Putin di Moskow adalah hal yang tidak mungkin baginya. Ia mengutip laporan dari kantor berita RBC-Ukraina yang mengutip dari Al Jazeera, bahwa pertemuan di ibu kota Rusia akan dianggap sama saja dengan bertemu Putin di Kyiv. “Saya juga bisa mengundangnya ke Kyiv, biarkan dia datang. Saya mengundangnya secara terbuka, jika dia berani, tentu saja,” tegas Zelenskyy, menunjukkan kesiapannya untuk konfrontasi diplomatik di tanah Ukraina.

Undangan ini merupakan langkah diplomatik yang berani dari pihak Ukraina, yang menekankan keinginan mereka untuk menyelesaikan konflik melalui jalur dialog, namun dengan syarat bahwa negosiasi harus dilakukan di wilayah yang tidak menguntungkan Rusia secara strategis.

3. PBB: 170 Warga Sipil Tewas Akibat Serangan Udara Militer Myanmar Selama Periode Pemilu

Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan temuan yang mengejutkan dan memilukan pada Jumat, 30 Januari, mengenai korban jiwa warga sipil di Myanmar. Sekitar 170 warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan udara yang dilancarkan oleh militer Myanmar selama periode pemilu yang berlangsung hampir dua bulan. Laporan ini menyoroti eskalasi kekerasan yang terus berlanjut meskipun negara tersebut tengah menjalani proses demokrasi.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 17 Kg Ganja, 4 Pengedar Diringkus

Menurut data yang dihimpun oleh PBB, angka korban tewas tersebut merupakan akumulasi dari sekitar 408 serangan udara militer yang dilaporkan melalui sumber terbuka sejak awal Desember hingga berakhirnya masa pemungutan suara. Pemilu di Myanmar sendiri dilaksanakan dalam tiga tahap dan baru saja berakhir pada Minggu lalu. Pelaksanaan pemilu ini dilakukan oleh pihak militer di tengah kritik keras dari berbagai pemantau demokrasi, yang menilai proses tersebut sebagai upaya untuk melegitimasi dan mempertahankan kekuasaan militer.

Pemilu Gagal Memberikan Perlindungan bagi Warga Sipil

Kantor Hak Asasi Manusia PBB menegaskan bahwa pelaksanaan pemilu sama sekali tidak mampu menghentikan gelombang kekerasan yang terus menerus menimpa warga sipil. James Rodehaver, kepala tim Myanmar di Kantor HAM PBB, menyatakan, “Pemilu ini tidak mencegah kekerasan yang terus berlangsung sepanjang 2025.” Ia menambahkan bahwa tahun 2025 tercatat sebagai tahun dengan jumlah korban sipil akibat serangan udara tertinggi sejak tahun 2021. Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa serangan udara tersebut bahkan masih terus dilancarkan pada hari pemungutan suara, menunjukkan minimnya rasa hormat terhadap proses demokrasi dan perlindungan hak asasi manusia.

Temuan PBB ini menimbulkan keprihatinan mendalam tentang situasi kemanusiaan di Myanmar dan menunjukkan bahwa proses demokrasi yang sedang berlangsung tidak serta merta membawa kedamaian atau keamanan bagi rakyatnya.