Alreinamedia.com-Natuna, Jumat pagi itu (19/9/25) udara di Pulau Midai berhembus tenang. Namun, suasana Gedung Pertemuan Desa Air Kumpai justru ramai tak seperti biasanya. Kursi-kursi terisi penuh, bahkan beberapa warga rela berdiri di sudut ruangan. Mereka datang dari berbagai desa, Air Putih, Air Kumpai, Gunung Jambat, Sebelat, hingga Batu Belanak. Dari dua kecamatan, Midai dan Suak Midai, masyarakat berbondong-bondong hadir.
Bukan pesta rakyat yang mereka tuju, melainkan sesuatu yang jarang mereka rasakan, negara hadir menyapa langsung lewat Kejaksaan Negeri (Kejari) Natuna, yang hari itu menggandeng PLN dan Basarnas Natuna.
Di tengah ruangan, Tulus Yunus Abdi, SH, MH, Kasi Intelijen Kejari Natuna, berdiri tegak. Suaranya mantap, menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna.
“Hukum bukan hanya urusan aparat. Hukum adalah kebutuhan hidup kita sehari-hari. Kalau kita sadar hukum, kehidupan akan lebih aman, tertib, dan sejahtera,” katanya.
Warga mengangguk, sebagian berbisik ke tetangga mereka. Bahasanya lugas, jauh dari istilah rumit yang biasanya terdengar di layar televisi.
Tulus kemudian mengingatkan pentingnya aturan dalam mengelola anggaran negara. “Setiap rupiah dari uang negara ada aturannya. Jika digunakan sesuai aturan, manfaatnya besar untuk pembangunan. Tapi bila disalahgunakan, tentu ada konsekuensi hukum,” ujarnya tegas.

Kegiatan itu tidak hanya satu arah. Warga diberi ruang untuk bicara. Asri Zainal, warga Desa Gunung Jambat, mengangkat tangan. Dengan suara lantang, ia mengeluhkan jaringan listrik di desanya yang dinilai membahayakan.
Tanpa menunda, perwakilan PLN Natuna langsung menanggapi. “Terima kasih atas masukannya. Keamanan jaringan listrik adalah prioritas kami. Tim akan segera turun mengecek dan menindaklanjutinya,” ujarnya, disambut tepuk tangan warga.
Suasana berubah ketika giliran Basarnas Natuna tampil. Mereka tidak hanya berceramah, tetapi mengajak warga untuk memahami pentingnya menjaga keselamatan baik dilaut, darat dan udara agar mana terhindar dari bahaya. Bagi masyarakat kepulauan seperti di pulau Midai, ilmu itu terasa lebih berharga daripada sekadar teori.
Acara dibuka oleh Camat Midai, Iwan, yang menekankan arti penting kehadiran lembaga negara di wilayah terluar. “Kehadiran Kejari bersama PLN dan Basarnas adalah bukti negara ada untuk kita semua. Edukasi ini penting agar masyarakat semakin sadar hukum dan siap menghadapi tantangan sehari-hari,” katanya.
Deretan tamu hadir lengkap, Kepala Dinas DPMPD Kabupaten Natuna, unsur Muspika, Polsek, Koramil, hingga personel TNI AL. Semua memperlihatkan sinergi negara yang kompak, meski berada jauh di batas negeri.
Menjelang siang, acara ditutup dengan suasana penuh keakraban. Kejaksaan Negeri Natuna menyerahkan sertifikat penghargaan kepada para kepala desa peserta sosialisasi hukum. Sebuah apresiasi kecil, namun memberi makna besar bagi pemimpin lokal yang menjadi ujung tombak masyarakat.
Di antara wajah-wajah cerah itu, seorang warga bernama Desi menyampaikan kesannya. “Kami jadi lebih paham tentang hukum, listrik, dan keselamatan laut. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya dengan mata berbinar.
Hari itu, Pulau Midai yang biasanya tenang seakan berubah menjadi ruang dialog besar. Dari hukum hingga kelistrikan, dari penyelamatan laut hingga dialog terbuka, semua berlangsung hangat dan penuh makna.

Kehadiran Kejari Natuna bersama PLN dan Basarnas meninggalkan pesan yang tak terbantahkan, penegakan hukum bukan hanya soal menindak, tetapi juga hadir untuk mendengar, melindungi dan memberdayakan masyarakat, bahkan hingga ke pulau-pulau terluar negeri ini. (Arizki)

















