Perempuan Nusa Tenggara Timur: Antara Kerja Keras dan Ruang untuk Didengar
Di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan perempuan seringkali dijalani dengan ritme yang nyaris tanpa jeda. Sejak fajar menyingsing, sebelum mentari menampakkan sinarnya, mereka telah memulai hari. Tugas rumah tangga, menyiapkan anak-anak untuk sekolah, mengolah kebun atau ladang, hingga mencari sumber air, semua tertuang dalam daftar panjang aktivitas harian. Lebih dari itu, kehadiran mereka menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Segala kerja keras ini kerap dianggap sebagai hal yang lumrah, bahkan melekat pada kodrat perempuan, sehingga jarang sekali dipertanyakan atau diberi perhatian lebih. Namun, di balik ketangguhan luar biasa yang mereka tunjukkan, tersembunyi kelelahan mendalam yang acap kali tidak mendapatkan ruang untuk diungkapkan.
Realitas ini menemukan sebuah cerminan reflektif yang mendalam dalam narasi dua tokoh perempuan dalam Injil Lukas (10:38-42), yaitu Marta dan Maria. Marta digambarkan sebagai sosok yang sangat sibuk melayani, memastikan setiap kebutuhan Yesus dan para muridnya terpenuhi. Ia adalah simbol dari kesibukan yang tak kenal lelah. Di sisi lain, Maria memilih jalan yang berbeda. Ia duduk dengan tenang di kaki Yesus, menyerap setiap perkataan yang keluar dari bibir Sang Guru.
Ketika Marta, dalam kepenatan dan rasa frustrasi karena merasa bekerja sendirian, mengeluhkan hal ini kepada Yesus, respons Sang Juru Selamat justru tidak memuji kesibukannya. Sebaliknya, Yesus mengingatkan bahwa kegelisahan yang muncul akibat kesibukan berlebih dapat membuat seseorang kehilangan esensi yang paling penting. Yesus menyatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik.
Kisah Marta dan Maria ini seringkali ditafsirkan sebagai perbandingan sederhana antara aktivitas kerja dan praktik doa, atau antara kesibukan fisik dan kontemplasi spiritual. Namun, dalam konteks realitas perempuan NTT saat ini, kisah tersebut dapat digali lebih dalam lagi. Ia menjadi sebuah alegori tentang perempuan yang terus-menerus diminta untuk memberi, namun sangat jarang sekali diberi kesempatan untuk didengar.
Banyak perempuan di NTT hidup dalam posisi yang sangat mirip dengan Marta. Mereka bekerja keras demi kesejahteraan keluarga, demi kemajuan Gereja, dan demi kebaikan masyarakat. Namun, suara mereka seringkali tidak mendapatkan bobot yang setara dalam proses pengambilan keputusan yang secara langsung memengaruhi kehidupan mereka sendiri.
Akibat Budaya Patriarki dan Tuntutan Sosial
Budaya patriarki yang masih mengakar kuat di berbagai wilayah NTT kerap menempatkan perempuan pada peran utama dalam kehidupan domestik. Namun, di saat yang sama, peran mereka di ruang publik seringkali dibatasi. Perempuan diharapkan untuk senantiasa setia, sabar, dan memiliki daya tahan yang luar biasa, bahkan ketika mereka harus menghadapi berbagai tantangan berat. Tantangan tersebut meliputi kemiskinan struktural yang merajalela, kekerasan dalam rumah tangga yang kerap tersembunyi, atau beban psikologis yang semakin menumpuk akibat tuntutan sosial yang berlapis-lapis.
Dalam situasi yang penuh tekanan ini, kesibukan yang tak henti-hentinya justru dapat berubah menjadi sebuah jebakan yang membungkam. Perempuan terus bekerja, tetapi mereka tidak memiliki waktu luang, atau bahkan tidak diizinkan, untuk berbicara dan menyampaikan isi hati serta pikiran mereka.
Yesus dalam kisah Marta dan Maria, justru menawarkan sebuah perspektif yang membebaskan. Ia tidak meniadakan pentingnya kerja keras, namun Ia menolak jenis kerja yang mengabaikan aspek relasi antarmanusia dan makna yang lebih dalam. Teguran Yesus kepada Marta sejatinya merupakan sebuah kritik tajam terhadap pola hidup yang terlalu sibuk hingga kehilangan arah dan pusatnya.
Dalam terang ajaran Injil ini, kita tidak menemukan pengukuhan terhadap budaya yang hanya menghargai perempuan semata-mata karena etos kerja mereka yang luar biasa. Sebaliknya, Injil justru mengangkat martabat perempuan sebagai subjek yang memiliki hak untuk didengar dan dihargai.
Memilih untuk Mendengarkan: Sebuah Tindakan Keberanian
Bagi perempuan NTT, sikap Maria yang memilih untuk duduk dan mendengarkan memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Tindakan duduk dan mendengarkan bukanlah indikasi kemalasan, melainkan sebuah bentuk keberanian untuk merebut ruang bagi diri sendiri. Dalam sebuah masyarakat yang terus-menerus menuntut perempuan untuk melayani tanpa henti, pilihan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara batin adalah sebuah bentuk perlawanan halus terhadap sistem yang justru melelahkan. Kontemplasi, dalam konteks ini, menjadi sebuah cara esensial untuk merawat diri, memperkuat iman, dan menjaga martabat diri.
Keseimbangan yang harmonis antara aksi (kerja) dan kontemplasi menjadi sangatlah krusial. Perempuan NTT tidak pernah kekurangan etos kerja yang tinggi; yang seringkali mereka rasakan adalah kurangnya ruang untuk berada dalam keheningan dan melakukan refleksi mendalam. Tanpa ruang untuk hening dan refleksi ini, kerja keras yang mereka lakukan berisiko berubah menjadi semacam kelelahan eksistensial, di mana kehidupan dijalani sekadar untuk bertahan, bukan untuk bertumbuh dan berkembang secara utuh.
Ajakan untuk Membangun Budaya Mendengarkan
Di sinilah pesan Injil menjadi begitu relevan dan mendesak. Kerja yang benar-benar bermakna lahir dari kedalaman diri, dari kesadaran akan tujuan yang lebih besar, bukan dari rasa keterpaksaan semata. Tulisan ini sejatinya merupakan sebuah ajakan yang tulus bagi Gereja dan seluruh komponen masyarakat di NTT untuk bersama-sama membangun sebuah budaya yang mengutamakan pendengaran.
Mendengarkan perempuan berarti membuka pintu lebar-lebar untuk dialog yang setara, menghargai setiap pengalaman hidup yang mereka miliki, dan secara aktif melibatkan mereka dalam setiap proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Gereja yang sungguh-sungguh setia pada ajaran Injil bukanlah sekadar Gereja yang gemar memuji pelayanan tanpa pamrih, melainkan juga Gereja yang dengan gigih melindungi ruang-ruang keheningan dan memberikan suara kepada kaum yang dianggap kecil, termasuk kaum perempuan.
Lebih jauh lagi, mendengarkan perempuan NTT berarti mengakui bahwa mereka bukanlah sekadar “penyangga” kehidupan semata, melainkan sumber kebijaksanaan dan daya tahan sosial yang tak ternilai harganya. Dari tangan dan hati merekalah keluarga dapat bertahan di tengah badai kehidupan, komunitas dapat terus terawat dengan baik, dan warisan iman dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mengabaikan suara perempuan sama saja dengan kehilangan sebagian besar khazanah kebijaksanaan lokal yang sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh NTT di masa kini dan mendatang.
Pada akhirnya, kisah Marta dan Maria secara tegas menantang kita semua untuk mengajukan sebuah pertanyaan mendasar: apakah kita hanya menghargai perempuan ketika mereka bekerja tanpa henti, ataukah kita juga menghargai mereka ketika mereka berani mengambil jeda, berhenti sejenak, dan kemudian berani bersuara? Selama perempuan NTT terus bekerja keras namun jarang sekali didengarkan, maka keadilan sosial yang sesungguhnya masih berada di tengah jalan. Mungkin, seperti Marta, kita semua perlu berhenti sejenak dari kesibukan kita—bukan untuk bekerja lebih keras lagi, melainkan untuk belajar dan mempraktikkan seni mendengarkan.

















