Alreinamedia, Jakarta – Di media sosial beredar potongan video berisi pernyataan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang berbicara soal masuk hotel dan ‘tampang Boyolali’. Timses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut makna asli video tersebut hilang karena dipotong dan menjadi terpelintir. Timses lalu menjelaskan maksud Prabowo sebenarnya.
Video itu diunggah beberapa akun di Twitter. Dilihat detikcom, Jumat (2/11), video itu berdurasi 20 detik. Di awal video, pernyataan Prabowo tak terdengar jelas karena terpotong.
“Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?” kata Prabowo dalam video tersebut dan disambut jawaban “betul” dari hadirin acara.
“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Kalian tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini,” lanjut Prabowo.
Hadirin tak terdengar memprotes Prabowo. Diujung perkataan Prabowo dalam video yang dipotong itu, terdengar suara gelak tawa dari hadirin.
Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Faldo Maldini telah melihat dan menanggapi video tersebut. Faldo mengatakan Prabowo sebenarnya berbicara soal akses kesejahteraan.
“Ini soal akses kesejahteraan. Di Jakarta pun, ada orang yang tidak tampang Jakarta. Tentu maksudnya, Jakarta sebagai pusat segalanya, masih banyak yang belum sejahtera. Itu yang sedang dibenahi terus, semakin baik sampai hari ini,” kata Faldo saat dikonfirmasi hari ini.
“Jangan sampai soal penurunan kesejahteraan ini terus berlanjut, itu pesan dari Pak Prabowo. Data BPS memperlihatkan penurunan kesejahteraan di desa, yang membuktikan pemerintahan sekarang tidak bekerja dengan baik, padahal Dana Desa sudah Rp 70 T. Ke depan kami ingin tambah kuantitas dan kualitas belanjanya,” imbuh Faldo.
Faldo lalu membahas konteks pernyataan yang disampaikan Prabowo dalam video terpotong tersebut. Intinya, kata Faldo, Prabowo ingin mengangkat derajat kesejahteraan orang-orang yang masih tergolong miskin di Indonesia.
“Orang miskin tidak boleh masuk hotel mewah, ini metafor, pemerintah selama ini gagal membuat orang lebih sejahtera. Bukan hotel mewahnya yang harus dibuka untuk orang miskin, tetapi orang miskinnya yang harus diangkat kesejahteraannya. Kayak tinju aja, kalau berat badan tidak cukup, bukan kelasnya yang diturunkan, tetapi berat petinjunya yang dinaikan,” tegas Faldo.
Faldo menyayangkan pemotongan video tersebut sehingga menghilangkan makna pesan Prabowo. Menurutnya, ini bentuk pemelintiran.
“Ada yang kehabisan bahan, lalu plintar-plintir, ngasih judul baru buat video itu. Jangankan video Pak Prabowo, saya saja sering digituin, politik brutal ini namanya. Ciri-ciri orang nggak punya pikiran lagi. Penyebar video itu perlu tahu yang namanya hate spin (pelintiran kebencian), ini yang bikin demokrasi gagal di banyak tempat di dunia,” pungkas politikus PAN itu.
Kebiasaan Tak Bisa Diubah
Sementara Partai Gerindra menyesalkan pemotongan video capres nomor urut 02 Prabowo Subianto soal masuk hotel dan ‘tampang Boyolali’. Gerindra menyebut pemotongan video itu upaya mendiskreditkan Prabowo.
“Ini kan cara orang ingin mendiskreditkan Pak Prabowo ya. Karena supaya masyarakat ketahui, pihak sebelah itu kan surveinya stuck dan cenderung turun. Pak Prabowo dan Bang Sandi naik terus. Nah mulailah cara cari cara mendiskreditkan Pak Prabowo,” ujar anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade, Jumat (2/11/2018).
“Caranya apa? Memotong-motong video percakapan Pak Prabowo supaya masyarakat salah persepsi untuk memfitnah Pak Prabowo, mendiskreditkan Pak Prabowo,” jelasnya.
Sama seperti salah satu jubir Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, yaitu Faldo Maldini, Andre menyebut konteks pidato Prabowo tentang kesejahteraan. Karenanya, dia sangat menyayangkan upaya pemelintiran informasi tersebut.
“Jadi ini memang terlihat mereka mulai panik melihat survei Pak Prabowo naik, mulai coba mendiskreditkan Pak Prabowo di ranah pribadi apalagi kita tahu minggu ini ada orang dari kubu sebelah yang berjanji kepada rakyat ternyata sampai tanggal 33 Oktober ya, sekarang 2 November atau 33 Oktober kan kalau menurut menyangkut janji bulan Oktober, Esemka itu keluar,” ucap Andre.
“Itu pengalihan isu untuk mendiskreditkan Pak Prabowo. Esemka mungkin tanggal 40 Oktober dilaunching,” cetusnya.
Video itu diunggah beberapa akun di Twitter. Dilihat detikcom, Jumat (2/11/2018), video itu berdurasi 20 detik. Di awal video, pernyataan Prabowo tak terdengar jelas karena terpotong.
“Saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?” kata Prabowo dalam video tersebut dan disambut jawaban “betul” dari hadirin acara.
“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Kalian tampang kalian tidak tampang orang kaya. Tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini,” lanjut Prabowo.
Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini, menganggap video Prabowo soal masuk hotel dan ‘tampang Boyolali’ merupakan pelintiran. PPP mempersilakan kubu Prabowo membantah namun hal itu dianggap sebagai kebiasaan yang tak bisa diubah.
“Silakan aja membantah. Kalau hanya sekali mungkin bisa dianggap pelintiran,” kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi atau Awiek saat dikonfirmasi, Jumat (2/11).
Menurut Awiek, Prabowo tak hanya sekali menyampaikan hal sedemikian rupa meski konteksnya berbeda. Dia lalu menyoroti sisi komunikasi Prabowo.
“Tapi Pak Prabowo kalau tidak salah juga beberapa kali menyampaikan hal serupa meskipun konteksnya tidak sama. Hal ini menunjukkan kebiasaan komunikasi politik yang tak bisa diubah,” kata Awiek. (am/detik)

















