Berita

Wisuda SCU Semarang: 73% Lulus Tepat Waktu, Siap Terlahir Kembali

×

Wisuda SCU Semarang: 73% Lulus Tepat Waktu, Siap Terlahir Kembali

Sebarkan artikel ini

Lulusan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang: Cepat Terserap Kerja dan Raih Kesejahteraan

Menjelang penutupan tahun akademik, Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang kembali menggelar prosesi wisuda untuk Periode IV tahun 2025 pada Sabtu, 13 Desember. Sebanyak 266 lulusan dikukuhkan, menandai bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bukti nyata performa lulusan SCU yang semakin gesit terserap oleh dunia kerja.

Rektor SCU Semarang, Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho, memaparkan hasil studi terbaru yang menunjukkan tren positif. Sebanyak 49 persen dari total lulusan telah berhasil menempati posisi, baik melalui jalur pekerjaan, kewirausahaan, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara itu, 51 persen sisanya masih dalam tahap pencarian kerja, namun dengan catatan waktu tunggu yang relatif singkat.

Masa Tunggu Lulusan: Jauh di Bawah Standar Nasional

Rata-rata masa tunggu lulusan pada periode wisuda kali ini tercatat selama 1,4 bulan. Meskipun sedikit mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya (1,3 bulan), angka ini masih tergolong sangat cepat dan jauh melampaui standar nasional yang menetapkan patokan enam bulan.

“Bahkan kampus-kampus ternama sekalipun belum tentu mampu menembus angka di bawah 1,5 bulan,” ujar Rektor Aji, menekankan keunggulan kompetitif lulusan SCU.


Rektor SCU Semarang Ir. Robertus Setiawan Aji Nugroho (bertopi) saat konferensi pers menjelang Wisuda Periode ke-IV 2025. Foto: Danang Diska Atmaja/JPNN

Fenomena menarik juga tercatat pada beberapa program studi, di mana ditemukan adanya masa tunggu “minus”. Ini berarti banyak mahasiswa yang telah mendapatkan pekerjaan bahkan sebelum mereka secara resmi diwisuda. Fenomena ini didorong oleh model pembelajaran yang secara proaktif menghubungkan mahasiswa dengan industri sejak dini. Program seperti magang yang dimulai sejak semester lima, keterlibatan dalam proyek industri, serta pembukaan peluang kerja di era digital, menjadi faktor kunci keberhasilan ini.

Baca Juga :  Kunjungan ke Cilacap, Presiden Akan Tanam Mangrove, Tinjau Vaksinasi, hingga Lepas Tukik

Kesejahteraan Lulusan: Gaji Awal yang Kompetitif

Lebih lanjut, terkait dengan kesejahteraan lulusan, Rektor Aji menegaskan bahwa rata-rata gaji awal yang diterima lulusan SCU konsisten berada di angka Rp 6,695 juta. “Ini adalah capaian yang konsisten dari periode ke periode,” tegasnya.

Di luar angka-angka statistik tersebut, SCU juga tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap program pembinaan tahun pertama yang bertajuk “Awakening the Giant Within” (ATGW). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa mahasiswa semakin memiliki arah hidup yang jelas. Motivasi mereka pun beragam, mulai dari mengejar gaji dua digit, bercita-cita menjadi dosen, melanjutkan studi S3, membangun bisnis sendiri, hingga berupaya menembus posisi di Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Menepis Anggapan Lama: Lulus Tepat Waktu dan Lebih Cepat

Rektor Aji juga secara tegas menepis anggapan lama yang mengaitkan kelulusan dari SCU dengan proses yang berlarut-larut. Pada wisuda periode ini, tercatat sekitar 73 persen mahasiswa program sarjana berhasil lulus tepat waktu. Bahkan, sebagian dari mereka mampu menyelesaikan studi dalam kurun waktu kurang dari empat tahun.

“Capaian ini lahir dari sistem akademik yang lebih adaptif dan pendampingan intensif yang telah diberikan sejak tahun pertama mahasiswa bergabung,” jelasnya.

Rincian Lulusan dan Keunggulan Fakultas Kedokteran

Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni SCU, Prof. Dr. Berta Bekti Retnawati, merinci jumlah wisudawan pada periode ini. Terdapat 193 lulusan program Sarjana (S1), 70 lulusan program Magister (S2), dan tiga lulusan program Doktor (S3).

“Dari jumlah tersebut, 35 persen mahasiswa S1 yang diwisuda telah memiliki pekerjaan. Sementara itu, para lulusan S2 dan S3 sebagian besar memang sudah aktif berkarier sebelum mereka menyelesaikan studi,” ungkap Prof. Berta.

Sorotan khusus diberikan kepada Fakultas Kedokteran (FK) SCU. Dalam dua periode terakhir Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), seluruh mahasiswa FK SCU berhasil lulus dengan predikat 100 persen. Hasil untuk periode ketiga masih dalam proses menunggu, namun pencapaian ini dianggap sangat sulit dicapai bahkan oleh sejumlah perguruan tinggi besar lainnya.

Baca Juga :  DPP GM PPMA Beraudiensi Dengan Bupati Asahan

“Slogan kampus ‘Joyful Future’ menjadi semangat yang menginspirasi. Mahasiswa kami banyak yang mampu bekerja sambil kuliah, sebagian bahkan berwirausaha. Ekosistem kampus dinilai sangat kondusif untuk mendukung pembelajaran aktif, dengan adanya ruang-ruang interaksi yang nyaman, perpustakaan yang ramah, fasilitas kopi gratis, serta interaksi dosen-mahasiswa yang tidak kaku,” tambah Prof. Berta.

Wisuda Bertema ‘Terlahir Menjadi Baru’: Simbol Transformasi Superhero

Ketua Panitia Wisuda Periode IV-2025, Paulus Anggara Poernama Sidi, menjelaskan bahwa tema wisuda akhir tahun ini adalah “Terlahir Menjadi Baru”. Tema ini terinspirasi dari momentum akhir tahun yang identik dengan kelahiran kembali dan semangat perayaan Natal.

“Seperti sebuah kelahiran, sesuatu yang baru akan terlahir. Kami menerjemahkan visualnya menjadi narasi tentang superhero, yang bertransformasi dari sosok biasa menjadi individu yang memiliki kekuatan luar biasa,” ujar Paulus.

Konsep superhero yang dihadirkan bukan sekadar elemen visual semata, melainkan sebuah simbol perjalanan para lulusan. Mereka kini memasuki fase kehidupan baru, siap memikul tanggung jawab yang lebih besar, menghadapi tantangan yang lebih kompleks, dan menjadi figur yang memberikan arti bagi diri sendiri serta keluarga.

Untuk tahun ini, panitia memutuskan untuk menggelar prosesi wisuda dalam satu sesi tunggal. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan tradisi SCU yang sangat menghargai momen kebersamaan keluarga. Dalam tradisi ini, wisudawan duduk berdampingan dengan orang tua atau wali mereka.

“Menjaga momen kebersamaan keluarga menjadi prioritas utama, bahkan lebih penting daripada membagi acara ke dalam beberapa sesi,” tutup Paulus.