Berita UtamagayahidupKepriKesehatanNatuna

Bakteri Tak Kenal Seragam, Jika Makanan MBG Sama, Mengapa Siswa yang Sakit? ‎

×

Bakteri Tak Kenal Seragam, Jika Makanan MBG Sama, Mengapa Siswa yang Sakit? ‎

Sebarkan artikel ini
Gambar merupakan ilustrasi makan bergizi Gratis (MBG)

Alreinedia.com-Keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menyisakan pertanyaan yang sulit diabaikan: jika makanan yang diduga bermasalah juga disantap relawan, kepala dapur, hingga ahli gizi, mengapa korban yang muncul justru siswa?

‎Apakah bakteri bisa membedakan siapa yang masih duduk di bangku sekolah dan siapa yang bekerja di dapur? Tentu Tidak

‎Namun, pertanyaan ini bukan berarti siswa yang sakit otomatis membuktikan makanan MBG sebagai penyebab. Hubungan tersebut tetap harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis, laboratorium, dan investigasi epidemiologi.

‎Justru karena itu, orang-orang yang ikut menyantap makanan yang sama harus menjadi bagian penting dalam investigasi.

‎Berapa relawan yang ikut makan? Apakah mereka mengonsumsi menu dan batch yang sama? Kapan mereka makan? Apakah ada yang mengalami gejala ringan tetapi tidak melapor? Apakah mereka diperiksa?

Baca Juga :  Gubernur Kepri Terima Anugerah Bintang Legiun Veteran RI dari DPP LVRI

‎Sebab tidak sakitnya seseorang bukan otomatis bukti makanan aman. Tingkat kontaminasi, porsi, waktu konsumsi, penyimpanan, hingga kondisi tubuh dapat membuat dampaknya berbeda.

‎Tetapi jika siswa sakit dalam jumlah besar sementara orang-orang dewasa yang mengonsumsi makanan yang sama sama sekali tidak mengalami gejala, perbedaan itu juga harus dijelaskan dengan data.

‎Jangan sampai investigasi hanya berhenti pada angka: berapa siswa yang sakit dan berapa yang dirawat.

‎Yang jauh lebih penting adalah mencari tahu di mana rantai keamanan pangan gagal mulai dari bahan baku, penyimpanan, pengolahan, suhu, waktu distribusi, hingga makanan dikonsumsi.

‎BPOM sendiri telah menyoroti risiko kontaminasi silang, higiene penjamah makanan, serta pengendalian waktu dan suhu dalam penyelenggaraan MBG.Maka publik layak mendapatkan jawaban yang lebih lengkap.

Baca Juga :  56 Rumah Hangus Akibat Bentrokan Warga di Buton Sultra

‎Siapa saja yang makan? Dari makanan yang sama atau tidak? Dari batch yang sama atau tidak? Siapa yang sakit dan siapa yang tidak? Dan apa bukti laboratorium yang menghubungkan makanan dengan kejadian tersebut? Ini bukan soal mencari siapa yang harus disalahkan.

‎Ini soal memastikan anak-anak tidak menjadi alarm terakhir dari kegagalan sistem keamanan pangan.

‎Karena satu hal pasti, Bakteri tidak mengenal seragam sekolah. Yang membedakan adalah paparan dan investigasi harus mampu menjelaskannya mungkinkan ini sebuah sabotase oleh oknum tertentu untuk mengadudomba Negeri ini ?

Editorial: Penulis Arizki Fil Bahri (Pimpinan Redaksi Media Alreinamedia.com)