Penyanyi Ghea Indrawari membuka kembali pengalaman masa kecil yang penuh jarak dengan ayahnya. Dalam percakapan di kanal YouTube C8 Podcast yang dikutip TribunStyle.com pada Senin, 12 Oktober 2026, Ghea menceritakan bahwa kedekatan itu memudar sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, jauh sebelum ia benar-benar memahami arti kehilangan sosok orang tua.
Ghea mengatakan perubahan besar dalam hidupnya terjadi ketika ia masih kelas 6 SD, menjelang masuk SMP. Pada masa yang seharusnya menjadi fase tumbuh dengan perhatian keluarga, ia justru menghadapi situasi ketika ayahnya semakin tidak hadir dalam keseharian. Ia mengaku pengalaman tersebut membentuk caranya memandang hubungan keluarga hingga dewasa.
Menurut Ghea, ketidakhadiran itu bukan sesuatu yang muncul mendadak. Sejak kecil, ia sudah melihat ayahnya kerap pergi dan tidak selalu berada di rumah. Karena kebiasaan itulah, ketika perpisahan itu akhirnya terasa lebih nyata, respons emosionalnya tidak meledak seperti yang mungkin dialami anak lain. Ia justru perlahan menjadi terbiasa dengan keadaan tersebut.
Dalam pengakuannya, Ghea menyebut masa kecilnya membuat ia sempat seperti kehilangan rasa terhadap situasi itu. Ia mengaitkan pengalaman tersebut dengan anggapan umum bahwa figur ayah sering menjadi sosok pertama yang sangat berarti bagi anak perempuan. Namun bagi dirinya, kedekatan itu tidak sempat benar-benar terbentuk secara utuh karena sejak awal sudah ada jarak yang panjang.
Seiring bertambah usia, Ghea belajar berdiri sendiri dan menerima kondisi yang tidak bisa ia ubah. Ia tidak menggambarkan dirinya sebagai orang yang memelihara marah berkepanjangan. Sebaliknya, ia memilih menjalani hidup dengan lebih tenang dan tidak terus memikirkan hubungan yang sudah terlanjur renggang.
Ghea juga mengungkap bahwa sang ayah kini telah meninggal dunia. Fakta itu membuat persoalan yang dulu sempat menyisakan tanya berubah menjadi bagian dari masa lalu yang tidak mungkin diperbaiki lagi. Dalam pandangannya sekarang, kebutuhan akan sosok ayah sudah tidak lagi menjadi hal yang besar dalam hidupnya. Ia menegaskan bahwa yang tersisa bukan dendam, melainkan penerimaan atas perjalanan hidup yang sudah ia lewati.
















