Operasi SAR Pencarian Pemancing Hilang di Perairan Tanjung Gomo
Kendari, Sulawesi Tenggara – Sebuah operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) tengah gencar dilakukan oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari. Fokus utama operasi ini adalah menemukan seorang pemancing yang dilaporkan hilang di perairan Tanjung Gomo, Pulau Hari, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Insiden yang merenggut hilangnya seorang warga bernama JU (50 tahun) ini terjadi pada Minggu malam, 11 Januari 2026, saat ia sedang melakukan aktivitas memancing menggunakan sebuah longboat bersama dua orang lainnya.
Kepala KPP Kendari, Amiruddin, mengonfirmasi bahwa pihaknya menerima laporan mengenai kejadian tragis ini pada Senin pagi, 12 Januari 2026, pukul 05.39 WITA. Laporan tersebut disampaikan oleh Sony, seorang personel dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tenggara.
Kronologi Kejadian yang Mencekam
Menurut keterangan yang dihimpun, peristiwa ini bermula pada Minggu sore, sekitar pukul 18.00 WITA. Ketiga individu tersebut berangkat bersama-sama menggunakan sebuah longboat untuk menikmati kegiatan memancing. Suasana yang awalnya mungkin tenang dan penuh harapan untuk tangkapan ikan yang melimpah, seketika berubah menjadi mencekam.
Sekitar pukul 20.00 WITA, atau dua jam setelah mereka memulai aktivitasnya, gelombang besar dan badai yang datang tiba-tiba menerjang longboat yang mereka tumpangi. Hantaman badai yang kuat menyebabkan perahu kecil tersebut tidak mampu bertahan dan akhirnya tenggelam.
Dua Selamat, Satu Masih Hilang
Dalam situasi yang genting dan penuh kepanikan tersebut, keberuntungan masih berpihak pada dua orang dari tiga pemancing yang berada di dalam longboat. Mereka berhasil menyelamatkan diri dengan berenang sekuat tenaga menuju sebuah bagang milik nelayan yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian. Bagang tersebut menjadi tempat perlindungan sementara bagi mereka dari amukan ombak dan kegelapan malam.
Namun, nahas bagi JU (50 tahun). Hingga laporan ini disampaikan, keberadaannya masih belum diketahui. Upaya pencarian intensif pun segera dilancarkan oleh tim SAR gabungan.
Gerak Cepat Tim SAR
Menindaklanjuti laporan hilangnya JU, KPP Kendari segera menggerakkan tim SAR menuju lokasi kejadian. Tim ini dilengkapi dengan berbagai peralatan pendukung yang sangat penting untuk kelancaran operasi pencarian di laut.
Peralatan yang dibawa meliputi alat selam, yang memungkinkan personel untuk melakukan penyelaman guna memeriksa area dasar laut. Selain itu, alat deteksi bawah air seperti ‘aquaeye’ juga turut dibawa. Aquaeye berfungsi untuk mendeteksi objek-objek yang mungkin berada di bawah permukaan air, termasuk kemungkinan keberadaan korban.
Tak ketinggalan, peralatan medis juga disiapkan sebagai langkah antisipasi jika korban berhasil ditemukan dalam kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera. Tim SAR gabungan ini terdiri dari berbagai unsur, menunjukkan keseriusan dan koordinasi yang baik dalam menghadapi situasi darurat seperti ini.
Pencarian terus dilakukan di sekitar perairan Tanjung Gomo dan area sekitarnya, dengan harapan JU dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Kondisi cuaca yang mungkin masih belum sepenuhnya kondusif menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh tim di lapangan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Operasi SAR
Beberapa faktor menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan operasi SAR ini:
- Kondisi Cuaca: Badai yang menerjang longboat menunjukkan bahwa kondisi laut di perairan tersebut bisa berubah dengan cepat. Tim SAR harus terus memantau prakiraan cuaca dan menyesuaikan strategi pencarian agar tetap aman.
- Luasnya Area Pencarian: Perairan Tanjung Gomo, Pulau Hari, dan sekitarnya memiliki area yang cukup luas. Hal ini membutuhkan pengerahan sumber daya yang optimal, termasuk kapal, perahu karet, dan personel dalam jumlah yang memadai.
- Waktu Hilangnya Korban: Hilangnya korban sejak Minggu malam berarti tim SAR berpacu dengan waktu. Semakin lama korban berada di laut, semakin besar risiko yang dihadapi, terutama terkait hipotermia dan kondisi fisik lainnya.
- Kondisi Fisik Korban: Usia korban yang 50 tahun menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam memperkirakan daya tahan fisiknya di tengah kondisi laut yang tidak bersahabat.
Peran Penting Nelayan Lokal
Dalam setiap operasi SAR di wilayah pesisir, peran nelayan lokal seringkali sangat krusial. Keahlian mereka dalam navigasi laut, pemahaman mendalam tentang arus dan kondisi perairan setempat, serta pengetahuan tentang lokasi-lokasi potensial di mana korban bisa terdampar, sangat berharga. KPP Kendari diharapkan dapat berkoordinasi erat dengan para nelayan di sekitar Pulau Hari dan Tanjung Gomo untuk mendapatkan informasi tambahan atau bahkan bantuan langsung dalam operasi pencarian.
Semoga operasi SAR ini segera membuahkan hasil positif dan JU dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat untuk kembali berkumpul bersama keluarganya.

















