Berita PilihanNatuna

Kesenian Mendu Dari Kepulauan

×

Kesenian Mendu Dari Kepulauan

Sebarkan artikel ini

Alreinamedia.com-Mendu merupakan salah satu kesenian tradisional yang ada di Natuna yang bernuansa kerakyatan. Menurut beberapa pendapat mendu pertama kali berkembang di pulau laut dan dikembangkan oleh orang kaya maddun. Kemudian mendu menyebar ke berbagai daerah dinatuna , Bunguran Timur (Ranai dan Sepempang) Siantan (Tarempa dan Langi) dan Midai.

Mendu juga menyebar ke Tanjung Pinang. Meskipun sudah berkembang di Tanjung Pinang, setelah mendengar istilah mendu yang terbayang dipikiran masyarakat adalah Natuna-Bunguran karena dianggap Natuna lah pusat berkembangnya mendu di Propinsi Kepulauan Riau.

Mendu juga merupakan salah satu media ekspresi dari seniman untuk menyampaikan pemikirannya dalam bentuk seni yang diterima secara visual ,waktu dan kenyamanan dalam memvisualisasikan watak dan alur ceritanya. Mendu juga merupakan salah satu karya budaya yang ditetapkan menjadi warisan budaya bersama antara kepulauan riau dan kalimantan barat. Namun keberadaan budaya ini dianggap antara ada dan tiada. Dikatakan tidak ada namun ada. Sementara bila dikatakan ada, mendu sudah jarang ditampilkan atau bahkan hampir tidak diketahui oleh masyarakat.

Ini terjadi karena kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat menyebabkan terkikisnya atau hilang nya kebudayaan dan tradisi daerah yang ada. Kata mendu merupakan singkatan dari melepas rindu karena pada awalnya pertunjukan mendu hanya dimain kan para saudagar,nelayan,dan petani sebagai hiburan. Dengan memainkan musik, nyanyian, dan berpantun untuk melepas kerinduan mereka pada kampung halamannya.Mendu juga merupakan sebuah kesenian yang tidak jauh berbeda dengan kesenian makyong dan bangsawan (sama – sama menggabungkan unsur nyanyian dan tarian).

Mendu juga mempunyai keunikan tersendiri yaitu ceritanya dimainkan tanpa naskah, maka para pemain harus menghapal alur ceritanya. Dialog dialong nya disampaikan dengan tarian dan nyanyian yang diiringi dengan musik khas gabungan dari gong,gendang,beduk,biola dan kaleng. Adapun lagu lagu yang dinyanyikan antara lain : Numu satu, Lemak lamun, Lakau, Catuk, Air mawar, Jalan kunon, Ilang wayat, Perang , Beremas, Ayuhai, Tale satu, Pucok labu, Sengkawang, Nasib, Numu satu serawak, Setinggi, Burung putih, Wakang pecah, Mas merah, Indah dan tarik labu. Sedangkan tarianya antara lain : Ladun, Jalan runon, Air mawar, Lemak lamun, Lakau, dan Beremas. Mendu biasanya dimainkan minimal 25-35 orang, jika jumlah pemainnya hanya 25 orang maka peraturannya 5 orang sebagai pemain musik kemudian selebihnya sebagai pelakon .

Pementasan mendu juga memerlukan panggung sebagai tempat para pemain berlaga. Khafilah merupakan orang yang bertanggung jawab atas pementasan mendu, yang bertugas mengatur jalannya pementasan. Syekh merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, yang bertugas melindungi para pemain dari ancaman kekuatan jahat. Kostum yang dikenakan para pemain adalah baju kurung teluk belanga (laki-laki) dan kebaya (perempuan) atau sesuai kan peran yang dimain kan karena tidak ada patokan yang khusus.

Baca Juga :  Dokumen  KM Oceana Three Diduga Bermasalah, Siapa Bertanggung Jawab? ‎

Dalam kesenian mendu gerakan yang ditarikan oleh para pemain tidak mempunyai aturan tertentu. Tetapi para pemain hanya mengikuti alur cerita dan harus memperhatikan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Meskipun hanya ditampilkan secara berbabak dan sesuai keinginan para penonton, para pemain mendu harus memeran kan peran yang sama secara terus menerus.Mendu juga bisa dijadikan media pembelajaran dengan menyampaikan nilai nilai luhur yang terkandung didalam ceritanya.

Terdapat dua pendapat yang berkenaan dengan seni pertunjukan mendu. “Mendu kemungkinan besar berasal dari asia tenggara, karena kesamaan dengan seni pertunjukan yang disebut sebagai mendura. Kesamaan ini terutama terletak pada pementasannya yang di lakukan diarea tanah terbuka “ (Henri Chambert-Loir yang dikutip oleh Raja Hamzah Yunus 1997). “mendu yang berkembang di daerah bunguran berasal dari wayang paesi yang berkembang di pulau penang sekitar tahun 1780 – 1880. Dahulu mendu hanya dimain kan oleh kaum laki laki. Namun memasuki tahun 70an iya tidak hanya dimainkan oleh laki laki tetapi perempuan juga ikut ambil bagian dalam pementasan mendu “ (B.M Syamsudin 1987). Terlepas dari asal usul tersebut, mendu mulai berkembang dan mulai dikenal oleh masyarakat bunguran barat sekitar tahun 1870, sebagaimana yang dikemukakan oleh B.M Syamsudin.

Namun sangat disayangkan mendu tidak lagi dipentaskan semenjak tahun 1943 karena adanya larangan yang ditetapkan oleh penjajahan jepang. Ternyata setelah kemerdekaan Indonesia pun mendu tidak pernah dipentaskan, mendu menjadi sesuatu yang asing karena masyarakat tidak mengetahui kesenian mendu.Kondisi ini mendorong pemerintah untuk menggali kehidupan utama dan mengembangkan mendu dengan cara melakukan diskusi dengan masyarakat dan seniman pada tahun 1978 sampai 1979. Kemudian pada tahun 1980 mendu kembali digaungkan setelah 37 tahun dianggap sebagai seni yang hilang atau mati suri.

Cerita mendu biasanya disampaikan menggunakan bahasa melayu mendu dan pesisir. Tetapi bahasa yang digunakan didalam mendu sering kali berbeda beda, misalnya bahasa mendu yang digunakan oleh masyarakat bunguran barat berbeda dengan bunguran timur,Siantan dan sebaliknya.
Cerita utama yang dimainkan dalam mendu adalah “HIKAYAT DEWA MENDU “ yang diangkat dari cerita rakyat bunguran natuna. Cerita ini jika dipentaskan akan menghabiskan waktu berhari hari , tetapi sama hal nya dengan seni pertunjukan lainnya mendu juga bisa ditampilkan perepisode . Cerita ini memiliki 7 episode yang terdiri dari :
• episode pertama menceritakan tentang kehidupan dikayangan dan turunnya dewa mendu dan angkara dewa kedunia yang fana. Dalam episode ini juga dikisahkan dewa mendu bertemu dengan siti mahdewi hingga keduanya sepakat untuk membentuk sebuah keluarga (episode ini kadamg kala dibagi menjadi dua, yakni turun nya dewa mendu dan angkara dewa, dan perkawinan dewa mendu dengan siti mahdewi).
• Episode kedua menceritakan berpisahnya dewa mendu dan siti mahdewi akibat berbuatan jin jahat yang diutus oleh maha raja laksa malik. Dalam episode ini juga dikisahkan bagaimana sang dewa mendu mencari sang istri nya tercinta.
• Episode ketiga menceritakan perjalanan siti mahdewi, dan kelahiran anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya dan perjumpaannya dengan nenek Kebayan.
• Episode ke empat mengisahkan tentang perjalanan dewa mendu yang kemudian sampai disebuah kerajaan yang raja nya bernama Bahailani. Masih dalam episode ini diceritakan juga bahwa dewa mendu akhirnya menikah dengan putri raja Bahailani.
• Episode kelima menceritakan perjalanan dewa mendu kesebuah kerajaan bernama Majusi. Dalam episode ini juga diceritakan tentang perkawinan Angkara Dewa dengan putri raja Majusi.
• Episode keenam menceritakan perjalanan Dewa Mendu kesebuah kerajaan bernama Firmansyah. Konon raja ini mengalami masalah karena putri nya dipinang oleh raja Beruk yang tak disukainya. Diepisode ini juga dikisahkan putri Firmansyah bertemu dengan Kilan cahaya.
• Episode ketujuh mengisahkan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Kilan Cahaya yang diawali dengan perkelahian antara keduanya.
Pertunjukan mendu biasanya diawali dengan bunyi gendang yang bertabuh, sebagai tanda pertunjukan akan segera dimulai dan para penonton segera berkumpul. Pembukaan pertunjukan biasanya diawali dengan perkenalan para pemain dan sutradara nya. Kemudian pertunjukan dilanjutkan dengan adegan adegan permulaan menuju pertunjukan puncak.
Puncak dari kesenian mendu adalah berakhir nya pertempuran dengan adanya pihak yang menang dan pihak yang kalah. Penampilan mendu kemudian ditutup dengan lagu dan tarian, semua pemain tampil berjajar menghadap penonton sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada penonton apabila terdapat kesalahan kesalahan yang mungkin mereka lakukan sengaja atau tanpa sengaja . Pertunjukan pun dianggap selesai dengan berakhir nya cerita dan ditutup nya layar. Penutupan mendu juga sering disebut dengan istilah “Beremas” yang artinya berkemas kemas untuk pulang.

Baca Juga :  PT Aura Sinar Baru Tegaskan Komitmen Jalankan Proyek Sesuai Aturan

Penulis : Daeng Dedek Syofiati
NIM : 1215210153