Breaking News

KPK: 2 Bupati Sekaligus, Liga Utama Dimulai

×

KPK: 2 Bupati Sekaligus, Liga Utama Dimulai

Sebarkan artikel ini

KPK Kembali Menggebrak: Dari Menteri ke Kepala Daerah, Apakah Tetap di ‘Liga Utama’?

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian operasi penindakan yang menyasar pejabat tinggi. Dalam satu hari terakhir, lembaga antirasuah ini berhasil melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap dua kepala daerah: Bupati Pati, Sudewo, dan Wali Kota Madiun, Maidi. Penangkapan ini memicu kembali perdebatan mengenai kiprah KPK dan posisinya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.

KPK Naik Kelas: Menelisik Kasus ‘Kakap’ yang Mengguncang

Sebelumnya, KPK telah mendapatkan apresiasi yang luas ketika lembaga ini menunjukkan keberaniannya dalam menangani kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat setingkat menteri. Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, bahkan menilai bahwa KPK kini telah kembali berani untuk masuk ke dalam ‘Liga Utama’ dalam pemberantasan korupsi. Penilaian ini muncul setelah KPK menetapkan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, sebagai tersangka dalam dugaan korupsi terkait kuota haji.

Selain itu, KPK juga tengah mengawal kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kedua mantan menteri ini merupakan bagian dari kabinet di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Tidak berhenti di situ, di era pemerintahan Presiden Prabowo, KPK juga telah bergerak menindak pejabat setingkat di bawah menteri. Salah satunya adalah Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, yang akrab disapa Noel. Ia terjerat dalam dugaan kasus pemerasan yang berkaitan dengan urusan ketenagakerjaan. Keberanian KPK untuk menyentuh kasus-kasus yang melibatkan figur-figur publik dengan jabatan strategis ini memang patut diapresiasi, menunjukkan bahwa lembaga tersebut tidak gentar dalam memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.

Baca Juga :  Penambang Emas Tewas Jatuh dari Tebing Fafolapo Poboya

Dua Kepala Daerah Terjaring OTT dalam Sehari

Kini, KPK kembali membuktikan taringnya dengan melakukan operasi tangkap tangan terhadap dua kepala daerah dalam waktu yang bersamaan. Pada hari Senin, 19 Januari 2026, dua pimpinan daerah ini diamankan dalam dua lokasi yang berbeda.

  1. Bupati Pati, Jawa Tengah, Sudewo: Belum ada informasi rinci mengenai perkara spesifik yang menjerat Bupati Pati. KPK masih terus mendalami motif dan kronologi penangkapan Sudewo.
  2. Wali Kota Madiun, Jawa Timur, Maidi: Wali Kota Madiun diamankan terkait dugaan praktik rasuah yang melibatkan pemberian fee proyek serta penyalahgunaan dana sosial perusahaan (CSR) di wilayah Kota Madiun. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa penangkapan ini diduga kuat berkaitan dengan praktik tersebut.

Penangkapan dua kepala daerah ini secara serentak menunjukkan bahwa KPK tetap aktif dalam memberantas korupsi di berbagai tingkatan pemerintahan, termasuk di level eksekutif daerah.

Evaluasi Kinerja KPK di Tahun 2025: Antara Prestasi dan Kritik

Sepanjang tahun 2025, KPK mencatatkan sejumlah kinerja yang patut diperhitungkan. Lembaga ini berhasil menetapkan 118 tersangka dan melaksanakan 11 operasi tangkap tangan. Melalui berbagai upaya penindakan tersebut, KPK berhasil memulihkan aset negara senilai Rp1,53 triliun.

Kinerja KPK di tahun 2025 memang menunjukkan penekanan yang kuat pada aspek penindakan, namun juga tidak mengabaikan upaya pencegahan. Meskipun demikian, muncul pula kritik yang menyebutkan bahwa minimnya kasus besar yang menyentuh kalangan elite politik membuat penindakan KPK terkesan masih ‘kelas teri’ dan belum menyasar ‘big fish’.

Baca Juga :  Longsor Cisarua: 7 Marinir Ditemukan, 16 Masih Hilang

Selain prestasi dalam penindakan, KPK juga mencatat penyerapan anggaran yang sangat tinggi, mencapai 98,19 persen. Lembaga ini juga berhasil menyetorkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) secara signifikan dan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk keenam kalinya. Dalam hal pengembangan sumber daya manusia, KPK juga berhasil mengembangkan 1.958 pegawainya.

Namun, di balik capaian tersebut, KPK masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah terkait efektivitas program pencegahan korupsi dan adaptasi terhadap regulasi baru yang terus berkembang. Upaya diseminasi pendidikan antikorupsi juga terus digalakkan, menjangkau ribuan pendidik, serta melalui kegiatan seperti ACFFEST yang melibatkan banyak sineas muda dalam menyuarakan pesan anti-korupsi.

Dengan penangkapan terbaru terhadap dua bupati dan wali kota, KPK seolah menegaskan kembali posisinya. Pertanyaannya kini adalah, apakah dengan terus menyasar para kepala daerah dan pejabat publik lainnya, KPK benar-benar telah kokoh berada di ‘Liga Utama’ pemberantasan korupsi, ataukah tantangan untuk menyentuh akar permasalahan dan para pelaku besar masih membentang luas di hadapannya? Perjalanan KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia masih panjang dan penuh dengan dinamika.