Warga Bengkulu Jadi Korban Penipuan Kerja Scammer Judi Online di Kamboja, Mengalami Kekerasan dan Kelaparan
Bengkulu – Empat warga Kota Bengkulu harus menelan pil pahit setelah menjadi korban penipuan berkedok pekerjaan di Kamboja. Mereka dijanjikan gaji menggiurkan sebagai tenaga pemasaran peralatan elektronik di Vietnam, namun kenyataannya malah terperosok dalam lingkaran pekerjaan sebagai scammer judi daring di negeri Gajah Putih. Selama bekerja, mereka mengalami penyiksaan fisik, kekurangan gizi, bahkan ancaman setrum, yang akhirnya memaksa mereka untuk melarikan diri dan mencari perlindungan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh.
Keempat korban yang bernasib malang tersebut adalah Ardi, Deni Febriansyah, Imron, dan Engga. Kepulangan mereka kini menjadi harapan besar para istri yang ditinggalkan. Yuli, istri dari Ardi, bersama dengan Sustri, istri Imron, serta istri dari Deni dan Engga, mengungkapkan kepedihan mereka saat ditemui di kediaman Imron di Kelurahan Belakang Pondok, Kota Bengkulu. Mereka berharap penuh agar pemerintah, baik dari tingkat gubernur maupun wali kota, dapat segera memberikan bantuan agar suami mereka dapat kembali pulang ke tanah air.
Kronologi Penipuan Berkedok Pekerjaan
Perjalanan para korban menuju Kamboja berawal dari tawaran pekerjaan yang datang dari seorang rekan. Awalnya, tawaran tersebut mengarah pada pekerjaan di Vietnam sebagai tenaga marketing peralatan elektronik, dengan iming-iming gaji fantastis mencapai Rp 12.800.000 per bulan.
“Saya sempat keberatan mengizinkan suami berangkat ke Vietnam itu, belakangan kami tertipu rupanya bekerja di Kamboja sebagai scammer judi online,” ujar Yuli dengan nada sedih.
Ajakan Misterius dari Rekan yang Tak Dikenal
Kejanggalan dalam tawaran pekerjaan ini mulai terasa ketika sosok perekrut itu terkesan sangat misterius. Yuli mengaku tidak mengetahui secara detail siapa rekan suaminya yang menawarkan pekerjaan tersebut. Perekrut tersebut bahkan tidak pernah bertatap muka langsung dengan keluarga korban di Bengkulu, hanya berkomunikasi melalui suami mereka.
“Suami hanya bilang ada temannya menawarkan kerja ke Vietnam jadi marketing peralatan elektronik. Saya tidak tahu yang mana temannya, suami hanya bilang temannya itu tinggal di Palembang, Sumatera Selatan,” jelas Yuli.
Yuli sempat merasa curiga dengan ajakan tersebut. Ia merasa heran karena orang yang mengajak suaminya bekerja itu tidak dikenalnya dan bahkan belum pernah sekali pun mampir ke rumah mereka.
“Kalau teman suami setidaknya mereka mampir ke rumah untuk meyakinkan dan menenangkan kami para istri,” papar Yuli, mengungkapkan rasa tidak percayanya terhadap sosok perekrut tersebut.
Meski ada keraguan, niat para suami untuk berangkat semakin kuat. Pada tanggal 6 Januari 2026, Ardi bersama Deni Febriansyah, Imron, dan Engga berangkat menuju Jakarta. Di ibu kota, mereka melanjutkan perjalanan ke Bekasi untuk mengurus pembuatan paspor.
“Katanya akan ada training selama dua bulan. Lalu para istri dijanjikan Rp 100.000 per hari. Namun, selama ini kami hanya diberi Rp 700.000,” keluh Yuli, membandingkan janji manis dengan realitas yang mereka terima.
Perjalanan Menuju Jebakan Maut di Kamboja
Setelah proses pembuatan paspor selesai, keempat pria tersebut tidak langsung menuju Vietnam seperti yang dijanjikan. Mereka justru diterbangkan ke beberapa negara transit, yaitu Malaysia dan Singapura, sebelum akhirnya tiba di Kamboja. Di sinilah mereka mulai menyadari bahwa mereka telah tertipu.
“Saat di Malaysia, dan Singapura kami masih bisa berkomunikasi dengan suami. Kemudian kami dapat kabar bahwa suami kami sudah di Kamboja bukan ke Vietnam seperti yang dijanjikan,” beber Sustri, istri Imron.
Titik terang penipuan ini terkuak ketika para suami akhirnya berani berbicara jujur mengenai pekerjaan yang sebenarnya mereka jalani.
“Awalnya suami belum mau cerita kalau mereka ditipu scammer judi online bukan sebagai pemasaran barang elektronik. Namun suami akhirnya mengaku,” jelas Sustri.
Kondisi Mengerikan di Tempat Kerja
Para suami menceritakan kondisi kerja yang sangat memprihatinkan di Kamboja. Mereka dipaksa bekerja tanpa henti, tanpa ada waktu istirahat yang layak. Lingkungan kerja yang keras bahkan memaksa mereka bekerja selama 24 jam penuh.
- Jam Kerja Ekstrem: Para korban dipaksa bekerja tanpa jeda, bahkan hingga 24 jam sehari.
- Hukuman Fisik: Jika rasa kantuk menyerang, mereka akan dihukum dengan cara disetrum.
- Jatah Makan Minim: Jatah makan yang diberikan hanya sekali dalam sehari, menyebabkan kekurangan gizi yang parah.
- Denda bagi yang Gagal: Karyawan yang tidak berhasil mencapai target yang ditetapkan akan dikenakan denda.
Kondisi penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi ini membuat keempat warga Bengkulu tersebut tidak tahan lagi. Mereka akhirnya mengambil keputusan nekat untuk melarikan diri dari tempat kerja mereka dan mencari perlindungan di KBRI di Phnom Penh.
Upaya Bantuan dan Harapan Kepulangan
Mengetahui nasib tragis yang menimpa warganya, Ketua DPD Garda Relawan Indonesia Semesta (GARIS) Provinsi Bengkulu, Iman SP Noya, segera bergerak. Ia menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat kepulangan keempat warga tersebut.
“Dengan kementerian kami sudah berkoordinasi, dengan pak gubernur juga sudah saya minta petunjuk. Kami berharap keempat warga Kota Bengkulu itu secepatnya pulang,” ujar Iman, menegaskan komitmennya dalam membantu para korban.
Upaya ini diharapkan dapat memberikan titik terang bagi keluarga yang menanti kepulangan suami dan ayah mereka, serta menjadi pelajaran berharga agar masyarakat lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan yang menjanjikan namun berujung pada penipuan dan penyiksaan.

















