Breaking News

Tim Prancis Selidiki Kecelakaan ATR 42-500 di Bulusaraung

×

Tim Prancis Selidiki Kecelakaan ATR 42-500 di Bulusaraung

Sebarkan artikel ini

Tim Ahli ATR Dikirim ke Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraong

Manajemen produsen pesawat ATR 42-500 yang berpusat di Toulouse, Prancis, telah mengumumkan pengiriman tim teknisi spesialis insiden ke pegunungan Bulusaraong, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini menyusul hilangnya kontak dengan pesawat ATR 42-500 yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan oleh Media Relation ATR, Charlotte Giuria dan Jeanne Caumont, melalui siaran pers resmi yang diterbitkan di situs web perusahaan. Tim spesialis ini diharapkan dapat memberikan dukungan penuh dalam investigasi kecelakaan yang sedang berlangsung, bekerja sama dengan tim dan operator di Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti dari insiden tersebut masih dalam tahap penyelidikan mendalam.

Operasi Pencarian dan Evakuasi Skala Besar Dimulai

Bersamaan dengan pengiriman tim ahli, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) skala besar berskala nasional telah dilancarkan sejak Minggu pagi. Tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur menghadapi medan yang sangat berat dan akses yang terbatas di pegunungan Bulusaraong, yang terletak di perbatasan tiga kabupaten di Sulawesi Selatan: Pangkep, Maros, dan Bone. Kondisi cuaca yang diwarnai hujan dan kabut tebal di pagi hari menambah kompleksitas upaya pencarian.

Tim pencari harus menyusuri sisi gunung karst yang merupakan bagian dari Geopark, hutan vegetasi basah di Taman Nasional Bantimurung, dan Hutan Lindung Karaengta. Area pencarian membentang dari radius 27 hingga 61 kilometer di sebelah tenggara Kota Makassar. Lebih dari 500 personel gabungan dari TNI, Polri, SAR daerah, serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat, terlibat dalam operasi ini.

Pernyataan Duka Cita dari ATR

Manajemen ATR menyampaikan rasa prihatin dan duka cita yang mendalam atas insiden yang menimpa pesawat mereka. ATR seri 42 dan 72 dikenal sebagai pesawat baling-baling yang sangat populer di segmen pasar di bawah 90 kursi. Pesawat jenis ini dioperasikan oleh lebih dari 200 maskapai di seluruh dunia, dan salah satunya adalah PT Indonesia Air Transport, operator pesawat dengan registrasi PK-THT.

Baca Juga :  Mayat di Selat Bali: Diduga Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Pesawat yang terlibat dalam insiden ini diproduksi pada tahun 2000 dan ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney Canada PW127. Sejak tahun 2025, pesawat ini telah disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia untuk mendukung berbagai kegiatan surveilans udara.

Detail Insiden dan Kronologi Hilangnya Pesawat

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 13.22 WITA. Pesawat ini berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta (JOG) pada pukul 09.00 WIB dengan tujuan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar (UPG).

Sebanyak 10 orang dilaporkan berada di dalam pesawat, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 penumpang. Ketiga penumpang tersebut adalah pegawai dari Badan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang seharusnya melakukan survei udara di Pesisir Selat Makassar. Sebelumnya, mereka telah melaksanakan misi serupa di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan Sulawesi Selatan.

Penemuan Serpihan dan Titik Api

Sejumlah serpihan pesawat dan titik api telah dilaporkan ditemukan di punggung gunung tertinggi keenam di Sulawesi Selatan ini. Namun, hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai status keselamatan penumpang dan awak pesawat. Sejumlah pihak di lokasi pencarian masih menyimpan harapan akan adanya korban yang selamat, sebuah harapan yang juga diungkapkan oleh Kepala SAR BPBD Pangkep, Akbar Yunus.

Seorang pendaki lokal bernama Rezki, yang berasal dari Pattalassang, Labakkang, Pangkep, melaporkan telah merekam pesawat saat terlihat oleng di lereng gunung. Ia juga mengklaim menemukan dokumen, logo KKP, dan puing-puing pesawat di area tersebut, meskipun ia sedikit ragu karena kondisi besi temuan yang sudah berkarat. Rezki melaporkan temuannya melalui telepon kepada Asriadi Alwi, anggota tim TRC SAR Pangkep.

Baca Juga :  Teror Influencer & Serangan AS ke Venezuela: 5 Poin Krusial

Fokus utama pencarian pada hari Minggu pagi adalah untuk menemukan ke-10 awak dan penumpang, serta komponen penting seperti black box dan Emergency Locator Transmitter (ELT).

Pernyataan Resmi dari Otoritas Penerbangan

Otoritas penerbangan menegaskan bahwa informasi yang beredar saat ini masih bersifat awal dan merujuk pada laporan media, media sosial, serta sumber tidak resmi. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Kementerian Perhubungan akan terus memperbarui informasi lapangan setelah investigasi lanjutan dilakukan oleh pihak berwenang.

Berdasarkan laporan awal dari Kementerian Perhubungan, pada pukul 04.23 UTC atau 11.23 WITA, pesawat telah menerima izin pendekatan (approach clearance) dari Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk mendarat di Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, selama fase pendekatan, pengatur lalu lintas udara (ATC) mendeteksi bahwa pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya.

ATC kemudian mengeluarkan instruksi untuk koreksi posisi dan jalur penerbangan kepada awak pesawat. Beberapa instruksi tambahan juga diberikan untuk mengarahkan kembali pesawat ke jalur yang aman dan terkonfirmasi. Kontak dengan pesawat hilang setelah instruksi terakhir disampaikan, demikian keterangan awal dari AirNav Indonesia Cabang MATSC, Makassar.

Data dari AirNav mencatat kontak terakhir dengan pesawat berada pada koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur, yang berjarak sekitar 21 kilometer timur laut dari Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Lokasi ini berada di kawasan pegunungan yang dikenal memiliki kontur yang terjal dan kondisi cuaca yang cepat berubah. Pesawat akhirnya ditemukan dalam kondisi hancur total di kawasan pegunungan Bulusaraong, sekitar 63 kilometer tenggara Makassar.