Ketegangan Meningkat: Iran Peringatkan AS, Korban Tewas Demonstrasi Meroket Ratusan
Teheran – Situasi di Iran memanas dengan cepat, memicu peringatan keras dari Teheran kepada Washington untuk tidak melakukan serangan militer sebagai respons atas gelombang protes yang mengguncang negara tersebut. Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah menimbang berbagai opsi respons, termasuk serangan militer, jumlah korban tewas akibat demonstrasi dilaporkan melonjak hingga ratusan, menimbulkan kekhawatiran internasional yang semakin dalam.
Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menerima paparan mengenai sejumlah opsi untuk melancarkan serangan militer ke Iran. Namun, opsi militer ini menuai pertanyaan dari kalangan anggota parlemen dari kedua partai, Republik dan Demokrat, yang meragukan apakah pendekatan tersebut merupakan solusi terbaik. Di tengah ketegangan ini, Israel dilaporkan berada dalam kewaspadaan tinggi, mengantisipasi kemungkinan intervensi militer AS di Iran.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa opsi yang dipaparkan kepada Presiden Trump mencakup serangan terhadap lokasi sipil. Keputusan untuk mengizinkan serangan militer terhadap Iran dikabarkan tengah dipertimbangkan secara serius oleh Trump.
Laporan awal menyebutkan bahwa pertemuan penting dijadwalkan akan melibatkan para pejabat senior pemerintah untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam menanggapi protes di Iran. Selain opsi militer, berbagai alternatif lain juga berada di meja perundingan Trump. Ini termasuk penguatan dukungan terhadap sumber-sumber anti-pemerintah secara daring (online), peluncuran serangan siber rahasia yang menargetkan situs militer dan sipil Iran, serta penerapan sanksi tambahan terhadap rezim yang berkuasa.
Korban Tewas Meningkat Drastis, Hak Asasi Terancam
Kekerasan yang menyertai demonstrasi di Iran telah merenggut nyawa ratusan orang. Berdasarkan laporan dari Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat, setidaknya 538 orang dilaporkan tewas, di mana 490 di antaranya adalah pengunjuk rasa. Kelompok tersebut juga mencatat lebih dari 10.600 orang telah ditangkap oleh otoritas Iran.

Para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Teheran, Iran, Senin, 29 Desember 2025. – (Fars News Agency via AP)
Sementara itu, kelompok pemantau hak asasi manusia lainnya, Hak Asasi Manusia Iran yang berpusat di Norwegia, melaporkan bahwa setidaknya 192 pengunjuk rasa telah terbunuh. Perbedaan angka korban jiwa antar kelompok hak asasi manusia ini disebabkan oleh kesulitan akses terhadap informasi di Iran akibat pemadaman internet yang diberlakukan oleh pemerintah. Meskipun demikian, perkiraan angka keseluruhan diperkirakan belum mencakup seluruh korban. Hingga kini, rezim Iran belum merilis angka resminya sendiri, dan verifikasi independen terhadap data tersebut menjadi sangat sulit.
Peningkatan drastis jumlah korban tewas ini terjadi seiring dengan semakin intensifnya tindakan keras yang dilakukan oleh pihak berwenang terhadap para pengunjuk rasa. Demonstrasi yang kini telah memasuki minggu kedua ini semakin menyulitkan kelompok-kelompok hak asasi manusia untuk melakukan kontak di dalam negeri. Mereka memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan terus bertambah.
Tindakan keras yang brutal ini telah meningkatkan potensi intervensi dari Amerika Serikat. Presiden Trump sendiri sebelumnya telah menyatakan kesiapannya untuk “menyelamatkan” para pengunjuk rasa jika pemerintah Iran melakukan pembunuhan terhadap mereka. Ancaman ini kembali ia tegaskan pada Sabtu malam, saat protes masih berlangsung. Melalui platform Truth Social, ia menyatakan bahwa “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!!”
Iran Balas Ancaman: Kepentingan AS dan Israel Terancam
Menanggapi kemungkinan serangan dari Amerika Serikat, para pejabat Iran menunjukkan sikap tegas. Ketua parlemen Iran memperingatkan bahwa kepentingan Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah akan menjadi “target yang sah” jika Washington memutuskan untuk menyerang Iran.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah yang diduduki maupun seluruh pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” tegas Mohammad-Bagher Ghalibaf.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan yang terjadi di negaranya. Ia mengklaim bahwa kedua negara tersebut telah mendatangkan “teroris” yang melakukan penyerangan terhadap fasilitas umum. Dalam sebuah wawancara televisi, Pezeshkian mengimbau masyarakat, terutama para orang tua, untuk tidak membiarkan anak-anak mereka bergabung dengan “perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain.” Imbauan ini menunjukkan adanya pergeseran sikap yang lebih keras dari pemerintah terhadap demonstrasi.
Menyusul eskalasi situasi, pemerintah Iran mengumumkan tiga hari berkabung nasional bagi “para syuhada,” termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas dalam dua minggu terakhir protes. Televisi pemerintah melaporkan bahwa Presiden Pezeshkian mendesak masyarakat untuk berpartisipasi dalam “pawai perlawanan nasional” pada hari Senin untuk mengecam kekerasan yang diklaim dilakukan oleh “penjahat teroris perkotaan.”
Akar Demonstrasi dan Respons Keras Rezim
Gerakan protes di Iran ini merupakan kerusuhan paling signifikan yang pernah dialami negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun awalnya dipicu oleh penurunan nilai mata uang negara yang mendadak, tuntutan para pengunjuk rasa dengan cepat berkembang menjadi seruan untuk reformasi politik dan bahkan penggulingan pemerintah.
Rezim Iran memang pernah menghadapi gerakan protes massa sebelumnya. Namun, para analis berpendapat bahwa kerusuhan saat ini diperparah oleh kondisi pemerintah yang melemah akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan dan dampak dari konflik musim panas dengan Israel. Pihak berwenang Iran dilaporkan telah melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh kunci dalam gerakan protes tersebut.
Kepala polisi nasional, Ahmad-Reza Radan, menyatakan kepada televisi pemerintah pada Minggu bahwa “Tadi malam, terjadi penangkapan besar-besaran terhadap unsur-unsur utama kerusuhan, yang Insya Allah akan dihukum setelah melalui prosedur hukum.” Ia tidak menyebutkan jumlah pasti individu yang ditangkap.
Jaksa Agung Iran sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka yang kedapatan berpartisipasi dalam protes, atau bahkan memberikan bantuan kepada para pengunjuk rasa, dapat dikenakan tuduhan sebagai “musuh Tuhan,” yang ancaman hukumannya adalah hukuman mati. Sikap keras ini juga mendapat dukungan dari beberapa kalangan di Amerika Serikat. Senator Lindsey Graham, misalnya, menyampaikan melalui media sosial bahwa “mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir.”

















