Distribusi Program Makan Bergizi Gratis di Sukoharjo Terkendala Teknis, Wabup Pastikan Segera Normal
SUKOHARJO – Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan klarifikasi mengenai isu kemacetan distribusi program pangan bergizi di sejumlah sekolah di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Beliau menegaskan bahwa kendala yang terjadi murni bersifat teknis dan bersifat sementara, serta dipastikan akan segera teratasi. Program ini diperkirakan akan kembali berjalan normal sepenuhnya mulai pekan depan.
“Kemacetan MBG di beberapa sekolah itu murni permasalahan teknis. Kami pastikan pekan depan program MBG yang sempat macet tetap kembali berjalan,” ujar Sapto, sapaan akrabnya, pada Sabtu (13/12/2025). Beliau menekankan bahwa permasalahan yang dihadapi bukanlah terkait substansi program atau kebijakan yang mendasarinya, melainkan kendala operasional di lapangan yang sedang dalam proses perbaikan.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Wabup Eko Sapto Purnomo memberikan contoh konkret mengenai kondisi di Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) Jetis, Sukoharjo. Sentra ini sempat menghentikan operasionalnya untuk sementara waktu akibat adanya kendala teknis. Namun, saat ini, SPPG Jetis telah kembali beroperasi secara normal dan secara bertahap mulai menyalurkan paket makanan bergizi ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran program.
“Seperti di SPPG Jetis yang sempat berhenti sementara karena kendala teknis, sekarang sudah mulai operasional kembali,” jelasnya, menegaskan bahwa solusi teknis sedang diimplementasikan.
Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan untuk Optimalisasi MBG
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo, bersama dengan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam program MBG, terus berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkala. Tujuannya adalah agar pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan dengan lebih optimal di setiap tahapannya. Hal ini mencakup seluruh aspek, mulai dari proses produksi pangan, efisiensi jalur distribusi, hingga ketepatan sasaran penerima manfaat, yaitu anak-anak sekolah.
Lebih lanjut, Eko Sapto Purnomo menegaskan kembali komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam mengawal penuh pelaksanaan program nasional ini. Dukungan penuh dari masyarakat dinilai sangat krusial untuk memastikan keberlanjutan program strategis ini dan memaksimalkan manfaat yang dapat dirasakan oleh seluruh penerima.
“Kami mengajak seluruh warga Sukoharjo agar tidak mudah terpancing isu-isu liar terkait MBG. Mari kita sukseskan dan dukung bersama program ini agar bisa berjalan dengan baik,” tegasnya, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi.
Dampak Luas Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada peningkatan asupan gizi bagi anak-anak usia sekolah. Lebih dari itu, program ini dirancang untuk memberikan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Sukoharjo.
Beberapa dampak positif yang diharapkan dari program MBG meliputi:
- Perbaikan Status Gizi Anak: Memberikan asupan makanan yang bergizi dan seimbang untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak-anak sekolah, serta mencegah stunting dan kekurangan gizi lainnya.
- Penciptaan Lapangan Kerja: Potensi pembukaan lapangan kerja baru, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui berbagai sektor yang terlibat dalam rantai pasok program, mulai dari petani, produsen pangan, hingga tenaga distribusi.
- Penguatan Ekonomi Lokal: Mendorong perputaran roda ekonomi daerah melalui pemanfaatan produk-produk lokal dalam penyediaan bahan pangan untuk program MBG. Hal ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sukoharjo.
- Peningkatan Kesadaran Gizi: Memberikan edukasi dan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya orang tua, mengenai pentingnya gizi seimbang bagi kesehatan dan perkembangan anak.
“Kita kawal bersama agar program MBG ini bisa berjalan. Perbaikan gizi, pembukaan lapangan dan kesempatan kerja, serta penguatan perputaran produk dan ekonomi lokal harus bisa terwujud,” pungkasnya, menutup pernyataannya dengan optimisme.

















