Kasus Tragis di Medan: Misteri Kematian Ibu dan Gelagat Tak Lazim Sang Anak
Sebuah peristiwa tragis menggemparkan Kota Medan, Sumatera Utara, ketika seorang ibu rumah tangga, Faizah Soraya, ditemukan tewas mengenaskan di kediamannya di Kecamatan Medan Sunggal. Yang membuat kasus ini semakin janggal dan menyita perhatian publik adalah gelagat sang anak, SAS, yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Sikap SAS dinilai sangat kontras dengan reaksi ayahnya, Alham Wumala Siagian, yang menjadi salah satu pihak yang dicurigai dalam insiden nahas ini.
Kecurigaan publik semakin menguat mengingat banyaknya warganet yang meragukan bahwa seorang bocah berusia 12 tahun mampu melakukan pembunuhan sekeji itu terhadap ibu kandungnya sendiri. Banyak pihak mempertanyakan logika di balik narasi yang beredar, terutama terkait dengan luka-luka yang dialami korban.
Kronologi Versi Sang Ayah dan Keraguan Publik
Menurut keterangan Alham Wumala Siagian, ia mengaku baru mengetahui adanya insiden mengerikan tersebut setelah mendengar teriakan histeris dari anak pertamanya yang saat itu berada di lantai atas. Ketika turun ke lantai satu, tepatnya di kamar tempat kejadian perkara, ia mendapati istrinya telah terkapar tak bernyawa dengan kondisi bersimbah darah.
Namun, keterangan ini menimbulkan banyak pertanyaan. Banyak pihak, termasuk keluarga korban, meragukan bahwa seorang suami tidak mengetahui adanya pertengkaran hebat antara anak dan istrinya hingga berujung pada kematian. Keraguan ini diungkapkan melalui komentar di media sosial, salah satunya dari akun Instagram @pakdebrewok2122.
“Semua adalah alibi si ayah, dia bilang adeknya di kamar pegang pisau bunuh mamanya dan dia katanya tidur di atas jadi gak dengar,” tulis akun tersebut.
Lebih lanjut, akun itu juga menyoroti ketidaksesuaian antara usia pelaku yang masih bocah kelas 6 SD dengan luka-luka yang ditemukan pada tubuh korban.
“Logika, ini adek masih kelas 6 SD, bukan SMP ya kawan-kawan, dan luka tusuk ada 20 tusukan. Logikanya gak mungkin mamaknya gak teriak kalau gak dibekap,” tambahnya, menggarisbawahi banyaknya tusukan yang dinilai membutuhkan kekuatan lebih dari anak seusia SAS.
Gelagat Ayah Korban yang Mencuri Perhatian
Di tengah situasi duka yang mendalam, gelagat Alham Wumala Siagian juga menjadi sorotan. Kepala Lingkungan V, Tono, yang berada di lokasi kejadian, melihat Alham dalam kondisi terpukul dan menangis histeris. Namun, kesaksian tetangga lainnya justru menangkap sikap yang berbeda. Alham dilaporkan menunjukkan kegelisahan, mondar-mandir di depan rumah yang telah dipasangi garis polisi.
Sesekali, ia terlihat menatap ke dalam rumah dengan wajah pucat pasi, bahkan setelah prosesi pemakaman selesai. “Itu suami korban yang mondar-mandir dari tadi pagi. Dia terlihat sangat terpukul,” ujar seorang warga, seperti dilansir dari Tribun Medan.
Ketika dimintai keterangan oleh awak media, Alham memilih untuk bungkam, beralasan masih dalam masa berduka. “Maaf ya, saya masih berduka,” ucapnya singkat.
Kontras yang Mencolok: Ekspresi Sang Anak yang Tak Terduga
Berbeda jauh dengan ayahnya yang menunjukkan kesedihan mendalam, sikap SAS, bocah kelas 6 SD yang diduga pelaku, sungguh mencuri perhatian. Ia disebut tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau tangisan sedikit pun di tengah situasi yang seharusnya dipenuhi duka.
Menurut kesaksian Tono, SAS hanya duduk terdiam di sofa ruang tamu, tanpa memperlihatkan ekspresi emosional apa pun. “Duduk aja di ruang tamu,” kata Tono.
Sementara itu, kakaknya, yang diduga terluka di jari-jarinya saat kejadian, kondisinya diobati oleh dokter yang datang ke lokasi. Kejadian ini menyisakan banyak misteri dan pertanyaan yang belum terjawab, mendorong pihak berwenang untuk terus mendalami seluruh aspek kasus ini demi mengungkap kebenaran di balik tragedi yang merenggut nyawa seorang ibu di tangan anaknya sendiri.
















