careers

Jeda Karier Bukan Akhir: Perempuan, Kembali Berkarya!

×

Jeda Karier Bukan Akhir: Perempuan, Kembali Berkarya!

Sebarkan artikel ini

Perjalanan karier perempuan seringkali tidak linier. Ada kalanya perempuan memilih untuk mengambil jeda dari karier profesionalnya demi mengurus keluarga, memulihkan kesehatan, atau alasan pribadi lainnya. Namun, keputusan ini seringkali dibayangi oleh stigma dan keraguan saat mereka ingin kembali ke dunia kerja. Padahal, jeda karier atau career break bukanlah akhir dari impian profesional, melainkan bagian dari dinamika kehidupan perempuan.

Victoria Aswien, Chief of Human Resources Officer L’Oréal Indonesia, menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar bagi perempuan yang ingin kembali bekerja setelah jeda adalah hilangnya kepercayaan diri. “Banyak perempuan harus berhenti bekerja karena tuntutan keluarga, lalu kehilangan rasa percaya diri saat ingin kembali ke dunia kerja. Padahal ketika perempuan diberi kesempatan, mereka bisa membawa perubahan yang jauh lebih besar,” ujarnya dalam sebuah acara.

Memahami career break sebagai sebuah jeda yang memungkinkan perempuan kembali berkarier adalah kunci. Ini bukan akhir, melainkan sebuah fase refleksi dan penataan ulang prioritas.

Peran Keluarga dan Kesetaraan yang Perlu Dimaknai Ulang

Isu career break sangat terkait erat dengan cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga. Hingga saat ini, pengasuhan anak dan urusan domestik masih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan. Sementara itu, laki-laki kerap dituntut untuk menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Namun, di tengah meningkatnya biaya hidup, beban ekonomi dan domestik akan terasa jauh lebih berat jika hanya dipikul oleh satu pihak. Kesadaran bahwa mengurus rumah tangga dan mencari nafkah adalah tanggung jawab bersama menjadi pondasi penting. Hal ini akan memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk menentukan pilihan hidupnya, termasuk dalam hal karier.

Career Break adalah Pilihan Hidup yang Sah

Mengambil jeda karier tidak serta-merta berarti menyerah atau kehilangan ambisi. Bagi banyak perempuan, career break adalah keputusan sadar untuk memberikan perhatian penuh pada keluarga, memulihkan diri dari kelelahan, atau menata kembali prioritas hidup. Sayangnya, pilihan ini masih sering dipandang negatif oleh sebagian kalangan. Masih ada anggapan bahwa jeda karier membuat perempuan tertinggal, kurang kompeten, atau kesulitan beradaptasi kembali.

Baca Juga :  From Medicine Dreams to Banking Reality: Adesuyi's Unexpected Path

Padahal, jeda tersebut justru dapat menjadi fase refleksi dan pembelajaran yang mendalam. Fase ini dapat membentuk perspektif baru, baik secara personal maupun profesional, yang kelak akan sangat berharga ketika kembali terjun ke dunia kerja.

Tantangan Saat Ingin Kembali Bekerja

Keinginan perempuan untuk kembali bekerja setelah mengambil career break sebenarnya sangat besar. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan bahwa jalan menuju hal tersebut tidak selalu mulus. Tantangan datang dari berbagai arah. Mulai dari stigma yang melekat pada jeda karier di CV, bias yang mungkin terjadi dalam proses rekrutmen, hingga minimnya dukungan transisi untuk kembali ke dunia kerja.

Di titik inilah banyak perempuan mulai meragukan diri sendiri. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa pengalaman dan kapasitas yang dimiliki sebelumnya tetap relevan. Perubahan teknologi yang cepat, ritme kerja yang berbeda, dan persaingan dengan generasi yang lebih muda kerap membuat kepercayaan diri perlahan memudar. Padahal, bekal yang sudah dimiliki jauh sebelum jeda tersebut tetap menjadi aset berharga.

Kepercayaan Diri Sebagai Titik Balik

“Hampir 40 persen perempuan pernah mengambil career break, dan 98 persen di antaranya ingin kembali bekerja. Ketika kesempatan setara diberikan, kita tidak hanya memberdayakan perempuan, tetapi juga membuka potensi ekonomi yang lebih besar,” ujar Wita Krisanti, Executive Director IBCWE.

Dalam berbagai kisah perempuan yang berhasil kembali bekerja setelah jeda, kepercayaan diri menjadi benang merah yang paling terasa. Ini bukan semata-mata tentang kemampuan teknis, melainkan tentang keyakinan kembali pada nilai diri sebagai seorang profesional. Tanpa kepercayaan diri yang memadai, kesempatan yang datang pun seringkali terasa menakutkan dan sulit untuk dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, perempuan yang kembali bekerja sangat membutuhkan dukungan untuk membangun kembali kepercayaan diri mereka.

Baca Juga :  Jalan Longsor di Batu Besar Nongsa Mulai Diperbaiki, Ditargetkan Rampung Akhir Tahun

Lingkungan kerja yang memberikan ruang untuk belajar kembali, beradaptasi tanpa tekanan, dan menghargai proses transisi terbukti sangat membantu perempuan melewati fase ini.

Dukungan Terdekat Mempermudah Langkah

Di balik keberanian seorang perempuan untuk kembali meniti karier, dukungan dari pasangan dan keluarga memegang peranan yang sangat besar. Dukungan ini membantu menjaga kestabilan mental dan emosional mereka. Pemahaman, komunikasi yang terbuka, serta kesediaan untuk berbagi peran dalam urusan rumah tangga menjadi penopang penting. Hal ini memungkinkan perempuan untuk menjalankan peran ganda dengan lebih seimbang dan tanpa merasa terbebani sendirian.

Bagi banyak perempuan, anak-anak justru menjadi sumber motivasi terbesar. Keinginan untuk memberikan contoh bahwa belajar, berkembang, dan mengejar mimpi tidak harus berhenti setelah menikah atau memiliki anak menjadi alasan kuat untuk kembali melangkah.

Career break bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian alami dari perjalanan hidup perempuan yang penuh dinamika. Jeda ini bisa menjadi ruang untuk merawat diri dan keluarga, sekaligus menata ulang arah hidup tanpa harus mengubur mimpi profesional. Dengan dukungan keluarga, lingkungan kerja yang inklusif, serta kesempatan yang adil, perempuan memiliki ruang untuk kembali melangkah dengan penuh percaya diri. Ini bukan tentang memulai dari nol, melainkan melanjutkan perjalanan dengan perspektif dan kekuatan baru. Pada akhirnya, menjadi seorang ibu tidak berarti berhenti untuk bertumbuh.

Kini Anda telah memahami bahwa career break bukanlah akhir dari segalanya. Perempuan memiliki jalan untuk kembali bekerja dan berhak meraih mimpi, pilihan, serta masa depan karier sesuai dengan versi terbaik diri mereka sendiri.

Popmama Arisan: Mendukung Ibu Menyusui bagi Perempuan Bekerja
Ibu Bekerja Juga Bisa ASI Eksklusif, Ini Bukti dan Dukungan Nyatanya!
7 Perlengkapan yang Harus Dibawa Ibu Menyusui saat Kembali Bekerja!
Normalisasi Perasaan Bersalah Mama saat Kembali Bekerja, Itu Wajar!