Tragedi di Medan: Siswi SD Nekat Bunuh Ibu Kandung Dipicu Dendam dan Pengaruh Konten Digital
Sebuah peristiwa tragis menggemparkan Kota Medan, Sumatera Utara, ketika seorang siswi kelas 6 Sekolah Dasar berinisial SAS alias Al (12) tega mengakhiri hidup ibu kandungnya sendiri, Faizah Soraya. Kejadian yang terjadi pada Rabu, 10 Desember 2025, ini mengungkap sisi kelam dari konflik keluarga yang diperparah oleh pengaruh negatif dari permainan daring (online) dan tayangan kartun.
Penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian berhasil mengungkap motif di balik tindakan mengerikan ini. Al mengaku menyimpan dendam mendalam terhadap ibunya akibat serangkaian perlakuan kasar dan ancaman kekerasan yang dialaminya, serta anggota keluarga lainnya.
Tiga Alasan di Balik Kemarahan Al
Kepada penyidik, Al membeberkan tiga alasan utama yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tersebut.
Ancaman Kekerasan dengan Senjata Tajam
Al mengungkapkan bahwa ibunya pernah mengancam dirinya, kakaknya, bahkan ayahnya dengan menggunakan pisau. Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam dan rasa takut yang terpendam dalam diri Al. Ancaman tersebut menciptakan suasana mencekam di dalam rumah, di mana rasa aman seharusnya menjadi prioritas utama.Perlakuan Kasar Terhadap Kakak dan Diri Sendiri
Al merasa sangat terpukul melihat kakaknya, SAS alias Az (16), kerap mendapatkan perlakuan kasar dari sang ibu. Ia menyaksikan langsung bagaimana sang kakak dimarahi, bahkan dipukuli menggunakan sapu dan ikat pinggang. Tidak hanya itu, Al sendiri juga mengaku pernah dimarahi dan dicubit oleh ibunya. Pengalaman pahit inilah yang perlahan menumbuhkan niat dalam dirinya untuk melukai ibunya, meskipun pada awalnya ia tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkannya.Kemarahan Akibat Penghapusan Game Online dan Pengaruh Konten Digital
Pemicu terakhir yang membuat Al nekat adalah ketika game online kesayangannya dihapus oleh sang ibu. Rasa sakit hati akibat kehilangan akses bermain game tersebut memicu kemarahannya. Al kemudian mencari pelarian dengan menonton konten digital lainnya, termasuk game bertema pembunuhan misteri dan serial anime. Dalam tayangan tersebut, terdapat adegan-adegan pembunuhan yang dilakukan menggunakan pisau. Penggambaran adegan-adegan kekerasan inilah yang kemudian terinternalisasi dan memengaruhi pikirannya, menginspirasinya untuk meniru adegan pembunuhan tersebut terhadap ibunya.
Detik-Detik Mengerikan di Malam Pembunuhan
Pada dini hari tanggal 10 Desember 2025, Al terbangun dari tidurnya. Rasa dendam yang menggunung membuatnya tidak bisa kembali terlelap. Ia memandangi ibunya yang sedang tertidur di sampingnya. Dalam kegelapan malam, Al bangkit dan mengambil sebilah pisau yang ada di rumahnya. Sebelum melakukan aksinya, Al sempat melepas pakaiannya. Ketika ditanyai mengenai alasannya, Al mengaku melakukan itu agar pakaiannya tidak terkena noda jika terjadi luka pada dirinya saat melakukan penikaman.
Tak lama kemudian, kakak Al yang terbangun mendengar keributan dan berusaha melerai. Ia mencoba merampas pisau dari tangan adiknya dan membuangnya ke dalam kamar. Namun, Al tidak menyerah. Ia kembali mengambil pisau kecil dari dapur. Kakak Al berusaha mencegah adiknya, bahkan mencoba menutup pintu kamar agar tidak terjadi hal yang lebih buruk. Dalam kekacauan tersebut, pisau kecil yang dipegang Al terjatuh. Kakak Al kemudian bergegas naik ke lantai dua untuk membangunkan ayah mereka.
Sang ayah, yang terbangun karena panggilan putrinya, segera turun untuk memeriksa kondisi istrinya. Ia mendapati Faizah Soraya masih hidup, meskipun dalam kondisi terluka parah. Dalam upayanya, sang ayah mencoba menghubungi rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan medis.
Upaya Penyelamatan yang Gagal
Saat kakak Al turun untuk membangunkan ayah mereka, Al menyusul dan memeluk ayahnya, seolah menunjukkan penyesalan atas perbuatannya. Bersama ayah dan kakak, mereka kembali ke lantai satu untuk memeriksa kondisi korban. Faizah Soraya masih sadar dan sempat meminta minum serta meminta untuk didudukkan. Ia juga memohon agar ambulans segera dipanggil.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Faizah Soraya, takdir berkata lain. Korban akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sebelum pertolongan medis yang memadai dapat diberikan. Kasus ini menjadi pengingat yang mengerikan akan kompleksitas masalah keluarga dan dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh paparan konten kekerasan, terutama pada anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan psikologis.

















