Kebijakan OP Gula ini yang telah dilaksanakan di sejumlah pasar di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kota Tangerang, Bogor, Serang, dan Jakarta ini mampu untuk memotong distribusi yang panjang dan menekan laju melonjaknya harga gula ini kendati belum semuanya tertekan sesuai Langkah mempercepat penambahan pasokan sangat penting untuk mengendalikan harga. Untuk itu, Pemerintah juga selalu berkoordinasi dengan produsen sampai distributor. Mendag Agus berharap langkah-langkah yang disiapkan tersebut bisa membuat harga gula di pasaran mulai normal kembali.
“Kami membuat kesepakatan dengan produsen agar menjual gula ke distributor paling mahal Rp11.200/kg. Harapan kami distributor akan menjual ke pengecer akhir paling tinggi adalah Rp 12.000/kg. Dengan demikian ritel modern dan para pengecer di pasar-pasar bisa menjual gulanya dengan HET,” tutur Menteri Agus Suparmanto.
Menurutnya, persoalan virus corona membuat rantai pasok menjadi tidak mudah karena banyak negara membuat kebijakan lockdown sehingga juga membuat pasokan gula dari luar terhambat masuk ke dalam negeri dan membuat harga gula mengalami kenaikan. Namun Mendag menjamin untuk harga gula di ritel modern sesuai dengan HET Rp12.500/kg di seluruh Indonesia.
Dijelaskan, terhambatnya distribusi komoditas rasa manis ini selain di sejumlah daerah menerapkan PSBB dan beberapa negara melakukan lockdown atau karantina wilayah sehingga jalur perdagangan internasional menjadi terhambat di tengah penyebaran virus corona. Jadwal kedatangan gula impor akhirnya ikut tertunda.
Di sisi lain, proses penggilingan tebu rata-rata baru dilakukan bulan depan sehingga gula konsumsi yang diproduksi di dalam negeri baru bisa masuk ke pasar pada Juni 2020 mendatang.
















