Hukum & Kriminal

Pembunuhan Ibu: Sandiwara Siswi SD Terbongkar Lewat Bercak Celana

×

Pembunuhan Ibu: Sandiwara Siswi SD Terbongkar Lewat Bercak Celana

Sebarkan artikel ini

Tragedi Memilukan: Anak 12 Tahun Tega Bunuh Ibu Kandung di Medan, Motif Terungkap

Sebuah peristiwa tragis yang mengguncang nurani publik terjadi di Medan, di mana seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, yang selanjutnya disebut AL, tega mengakhiri hidup ibu kandungnya, FS (42). Kasus yang melibatkan anak di bawah umur ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga membuka tabir gelap mengenai dampak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perkembangan psikologis anak. Polrestabes Medan telah mengambil langkah hukum dengan menetapkan AL sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (ABK) dan menjeratnya dengan pasal-pasal pidana yang relevan, sembari tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak.

Penetapan Status Hukum dan Jerat Pasal

Setelah melalui proses gelar perkara yang komprehensif, menggabungkan fakta hukum, temuan forensik, dan analisis psikologis, Polrestabes Medan secara resmi menetapkan AL sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (ABK). Keputusan ini disampaikan langsung oleh Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr. Jean Calvijn Simanjuntak.

“Berdasarkan gelar perkara, sudah ditetapkan sebagai ABK. Dikenakan Pasal KDRT,” ujar Kombes Pol Calvijn Simanjuntak dalam konferensi pers yang digelar di Polrestabes Medan pada Senin (29/12/2025).

Lebih lanjut, AL dijerat dengan Pasal 44 ayat 3 Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Sebagai subsider, ia juga dikenakan Pasal 338 KUHPidana mengenai pembunuhan dan Pasal 340 KUHPidana mengenai pembunuhan berencana. Meskipun demikian, penanganan hukum terhadap AL tetap memprioritaskan aspek perlindungan anak. Saat ini, AL ditempatkan di rumah aman.

Kronologi Peristiwa yang Mengerikan

Peristiwa pembunuhan yang terjadi pada Rabu dini hari, 10 Desember 2025, ini menyisakan luka mendalam. Korban, FS, ditemukan dengan 26 luka tusuk yang fatal.

  • Detik-detik Awal: Kejadian bermula saat korban tertidur pulas di kamar lantai satu bersama kedua anaknya. Sang suami, ayah dari AL, beristirahat di lantai dua. Sekitar pukul 04.00 WIB, AL terbangun dari tidurnya.
  • Aksi di Dapur: Tanpa diketahui niatnya, AL bangkit dan menuju dapur. Di sana, ia mengambil sebuah pisau.
  • Penyerangan Brutal: Dengan pisau di tangan, AL kembali ke kamar. Dalam kondisi korban masih terlelap, ia melancarkan serangan membabi buta.
  • Upaya Penyelamatan yang Tragis: Kakak korban terbangun akibat tubuhnya tertimpa AL dan menyadari ibunya sedang ditikam berkali-kali. Panik, ia berusaha merebut pisau dari tangan AL. Upaya ini berhasil, namun tangannya sendiri terluka akibat sabetan senjata tajam.
  • Ancaman Berlanjut: AL tidak berhenti. Ia kembali ke dapur untuk mengambil pisau lain. Saat ia hendak kembali masuk ke kamar, sang kakak dengan sigap menutup pintu, menggagalkan aksi AL untuk menggunakan pisau kedua.
Baca Juga :  Tragedi Medan: Siswi SD Bunuh Ibu, Inspirasi Kartun Terkuak

Kepanikan, Pertolongan, dan Akhir yang Menyedihkan

Melihat ibunya tergeletak bersimbah darah, kakak korban segera berlari ke lantai dua untuk membangunkan ayah mereka. AL menyusul tak lama kemudian setelah mengenakan pakaian dan memeluk ayahnya. Ketiganya kemudian turun ke lantai satu.

Ayah dan kakak korban segera memeriksa kondisi FS, sementara AL terduduk lemas di sofa ruang tamu. Dalam kondisi masih hidup, korban sempat meminta dipanggilkan ambulans dan meminta minum yang diberikan oleh kakaknya.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa ayah korban tidak terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Justru, ia yang berinisiatif menghubungi Rumah Sakit Columbia Asia untuk meminta pertolongan medis. Sayangnya, nyawa korban tidak dapat diselamatkan. Sekitar pukul 05.40 WIB, ambulans tiba, namun korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Temuan Forensik dan Jejak Kriminal

Penyelidikan forensik memberikan gambaran lebih jelas mengenai peristiwa tersebut.

  • Senjata Pembunuhan: Pisau yang digunakan pelaku ternyata adalah pisau dapur yang memang tersedia di rumah. Hal ini mengindikasikan bahwa pisau tersebut tidak dipersiapkan secara khusus oleh pelaku untuk melakukan kejahatan.
  • Analisis DNA: Pemeriksaan DNA pada gagang pisau menunjukkan adanya DNA korban dan AL. Sementara itu, pada bilah pisau ditemukan DNA korban dan kakak AL, yang terluka saat mencoba menghentikan aksi tersebut.
  • Jejak Darah: Darah yang ditemukan di kamar lantai satu dipastikan seluruhnya milik korban. Darah di lantai dua merupakan DNA kakak korban yang berlari meminta tolong. Penemuan darah korban pada celana dalam AL semakin memperkuat bukti keterlibatannya.
Baca Juga :  Pesta di Street Coffee Kudus Dibubarkan, Pemilik dan Panitia Diamankan

Tiga Motif Utama di Balik Kekerasan Fatal

Kapolrestabes Medan merinci tiga motif utama yang mendorong AL melakukan tindakan kekerasan ekstrem terhadap ibunya.

  1. Pengalaman Kekerasan: AL diduga kuat mengalami dan menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga. Ia melihat korban melakukan kekerasan terhadap kakaknya, bahkan pernah mengancam menggunakan pisau terhadap ayah mereka.
  2. Pukulan dan Ancaman: Motif kedua adalah melihat kakaknya dipukuli oleh korban menggunakan sapu dan tali pinggang.
  3. Sakit Hati karena Game: Motif ketiga yang terungkap adalah rasa sakit hati AL karena permainan game online miliknya dihapus oleh korban.

Pemicu Emosi dan Pengaruh Budaya Visual

Selain motif utama, polisi juga mengidentifikasi sejumlah pemicu yang diduga memperkuat emosi dan obsesi AL terhadap kekerasan. AL diketahui kerap memainkan permainan yang melibatkan penggunaan pisau dan menonton serial anime dengan adegan kekerasan.

Secara spesifik, AL sering menyaksikan permainan “Murder Mystery”, terutama pada bagian adegan pembunuhan menggunakan pisau. Ia juga sering menonton serial anime “Detective Conan” episode 271, yang menampilkan adegan pembunuhan dengan senjata tajam. Paparan berulang terhadap konten kekerasan semacam ini diduga turut membentuk pola pikir dan keberanian pelaku dalam mengeksekusi aksinya yang mengerikan. Kasus ini menjadi pengingat penting akan pentingnya pengawasan terhadap konten yang dikonsumsi anak-anak dan perlunya intervensi dini terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga.