Operasi pencarian dan evakuasi pesawat ATR 42-500 memasuki hari keempat dengan strategi yang lebih terukur dan terfokus, berdasarkan temuan-temuan krusial dari hari kedua dan ketiga. Tim SAR Gabungan, yang terdiri dari berbagai unsur, telah membagi kekuatan menjadi sembilan unit Search and Rescue Unit (SRU) untuk memaksimalkan efektivitas misi. Delapan unit darat dan satu unit udara dikerahkan untuk menyisir area pencarian yang luas dan medan yang menantang.
Pembagian Unit SAR untuk Efektivitas Pencarian
Kepala Kantor SAR Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, yang menjabat sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa fokus utama pada hari keempat operasi adalah penyisiran lanjutan di lokasi-lokasi di mana barang milik korban dan bagian-bagian pesawat telah ditemukan sebelumnya. Pembagian tugas yang jelas antar unit SAR menjadi kunci keberhasilan strategi ini.
SRU 1-5: Penyisiran Titik Temuan Awal
Unit-unit ini ditugaskan untuk menyisir secara detail beberapa titik awal penemuan yang menjadi prioritas utama. Rincian tugasnya meliputi:- Lokasi pertama kali korban ditemukan.
- Area penemuan serpihan pesawat dan jendela.
- Lokasi penemuan mesin pertama pesawat dan tangga kursi.
- Titik ditemukannya korban kedua beserta barang-barang pribadinya.
- Area penemuan sayap pesawat dan mesin kedua.
SRU 6: Pengecekan Lanjutan Ekor Pesawat
Unit ini memiliki tugas khusus untuk melakukan pengecekan lanjutan terhadap lokasi ekor pesawat. Ekor pesawat ditemukan pada kedalaman sekitar 200 meter, yang memerlukan perhatian ekstra dalam proses investigasi dan evakuasi.SRU 7 & 8: Evakuasi Jenazah dan Pengamanan Jalur
Untuk proses evakuasi jenazah korban yang telah berhasil dilakukan, SRU 7 menjadi unit yang bertanggung jawab memindahkan kedua jenazah ke area persawahan di Kampung Baru. Tugas ini didukung penuh oleh SRU 8 yang bertugas mengamankan jalur evakuasi agar proses berjalan lancar dan aman.SRU 9: Operasi Udara dengan Helikopter
Unit udara, SRU 9, akan melaksanakan penyisiran menggunakan helikopter dari Pangkalan Udara (Lanud) TNI AU Hasanuddin. Fokus penyisiran udara adalah kawasan Pegunungan Bulusaraung. Helikopter ini akan dimaksimalkan untuk menjangkau seluruh sektor pencarian yang sulit diakses tim darat, sekaligus memperkuat pemetaan lokasi secara akurat.
Tantangan Medan dan Cuaca Ekstrem
Meskipun telah dibekali dengan strategi yang matang dan pembagian tugas yang jelas, Tim SAR Gabungan menghadapi tantangan signifikan dalam pelaksanaan operasi. Medan yang curam dan kondisi cuaca yang ekstrem menjadi hambatan utama. Namun, demikian, seluruh personel tetap menjalankan tugas dengan mengutamakan keselamatan diri.
“Seluruh SRU bekerja berdasarkan data koordinat dan hasil temuan di lapangan. Medan yang curam dan cuaca ekstrem masih menjadi tantangan, namun operasi tetap dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan personel,” ujar Arif.
Kolaborasi Lintas Instansi dalam Operasi SAR
Operasi SAR ini merupakan wujud nyata kolaborasi antara berbagai instansi. Selain Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), tim SAR gabungan juga melibatkan personel dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pemerintah daerah, serta potensi SAR lainnya. Sinergi ini memastikan bahwa seluruh sumber daya yang ada dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan misi.
Perkembangan lebih lanjut mengenai hasil operasi SAR ini akan terus disampaikan secara berkala kepada publik untuk memberikan informasi yang transparan dan terkini mengenai perkembangan pencarian dan evakuasi.

















